64. ORANG YANG TELAH MENERIMA ANUGERAH, TETAPI GAGAL HIDUP DALAM ANUGERAH – 2
Saya ingin membayangkan, ada seorang budak yang disiksa hingga terluka parah, lalu dibiarkan tergeletak di pinggir jalan.

Tanpa sengaja, ada seseorang yang melihat budak itu, lalu ia tergerak dengan belas kasihan.
Orang itu menanyakan kepada orang-orang yang berada di sekitarnya, “Siapakah pemilik budak itu, sebab saya mau menebusnya?”
Mereka memberitahu siapa pemilik budak itu, lalu ia mendatangi rumah pemilik budak itu untuk menebusnya.
“Oh, budak itu, aku telah membuangnya karena ia budak yang tidak berguna!”
“Kalau kamu mau budak itu, ambil saja, sebab aku telah membuangnya.”
“Tidak begitu kawan, sekali pun kamu telah membuangnya, tetap saja aku mau menebusnya dengan sejumlah harga.”
“Oh begitu?”
“Baiklah kalau itu keinginan kamu.”
Maka pemilik budak menyebutkan sejumlah angka sebagai harga penebusan budak itu dan orang itu mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar harga kepemilikan atas budak itu.
“Ini budakmu sekarang.”
Sejak saat itu, telah beralih kepemilikan budak itu.
—o0o—
Sesampai di rumah, ternyata budak itu budak yang jahat dan malas, sehingga banyak budak lain yang mengeluhkan tentang kelakuannya.
Bertanyalah tuannya kepada budak itu, “Mengapa kamu berbuat jahat kepada teman-temanmu, padahal kamu telah hampir mati karena disiksa dan telah dibuang?”
—o0o—
Itu pertanyaan kepada kita, “Mengapa kita tidak menjalani kehidupan sebagai orang yang telah ditebus dan menerima anugerah?”
Jangan sampai kita menjadi orang yang telah menerima anugerah namun menghilangkan anugerah.
TENTANG RAJA DAN TUAN PEMILIK KEBUN ANGGUR YANG BERMURAH HATI
Kalau kita renungkan lebih jauh, sebenarnya perumpamaan ini bukanlah tentang si hamba yang berhutang 10.000, melainkan tentang seorang raja yang bermurah hati sehingga ia melunaskan hamba yang berhutang sangat banyak itu.
Termasuk tentang perumpamaan orang-orang upahan di kebun anggur (baca: Matius 20:1-16), itu bukan orang-orang upahan yang dipanggil tuan pemilik kebun anggur tetapi tentang tuan pemilik kebun anggur yang bermurah hati.
Mari kita lihat perbedaan anugerah dan bukan anugerah dari perumpamaan kedua ini.
SISI ANUGERAH
Tuan pemilik kebun anggur pergi mencari pekerja upahan supaya pekerja-pekerja itu bekerja di kebun anggurnya.
Bertemulah ia dengan orang-orang upahan.
Dan bekerjalah orang-orang upahan sesuai dengan jam mereka masuk, yaitu jam 6, jam 9, jam 12, jam 15, dan yang terakhir jam 17.
Awalnya orang-orang upahan ini bersukacita karena mereka mendapatkan pekerjaan.
Karena sering mereka menganggur seharian.
SISI BUKAN ANUGERAH
Jam 18, waktu tuan pemilik kebun anggur memberikan upah kepada semua pekerja.
“Kumpulkan semua pekerja, mulai dari mereka yang paling akhir bekerja,” kata tuan pemilik kebun anggur kepada mandornya.
Mandornya memanggil semua pekerja.
Dengan cepat semua pekerja berbaris sesuai dengan jam mereka masuk kerja.
Dimulai dengan pekerja jam 17 yang pertama menerima upah.
Mereka kaget sebab mereka menerima upah sehari penuh, yaitu dinar, padahal mereka hanya bekerja 1 jam saja.
Dengan cepat berita itu menyebar ke semua pekerja yang berbaris rapih sesuai dengan jam mereka masuk kerja.
“Kalau mereka yang bekerja 1 jam mendapatkan 1 dinar, berarti kita mendapatkan 3 dinar, sebab kita bekerja 3 jam,” seru salah seorang pekerja jam 15.
Seperti peribahasa ‘Tidak perlu mengajari bebek berenang’, mereka cepat menghitung upah yang akan mereka terima berdasarkan 1 jam sama dengan 1 dinar.
Ada akan mendapatkan 6 dinar, 9 dinar dan 12 dinar.
Tetapi yang mereka terima sangat mengecewakan, yaitu masing-masing 1 dinar saja, tidak seperti sangkaan mereka.
Mereka protes karena merasa diperlakukan tidak adil.
“DI MANA KESALAHAN ORANG-ORANG UPAHAN INI?”
Mereka salah membuat patokan.
Sangkaan mereka akan mendapat lebih banyak upah itu menjadi cikal bakal kesalahan mereka.
—o0o—
Anugerah itu bukan upah.
Anugerah adalah pemberian, bahkan pemberian yang sangat besar.
Saya lebih suka menyebutnya, “Pemberian yang melebihi batas.”
“Lalu apa kesalahan yang dilakukan oleh orang-orang upahan ini?”
Mereka mengubah anugerah menjadi upah.
—o0o—
Lihatlah peringatan ini.
Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?
Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu.
Tidaklah aku bebas menggunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? (Matius 20:13-15)
Dan akhir perumpamaan ini, Yesus menegaskan hal ini.
Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir. (Matius 20:16)
Itu adalah peringatan serius supaya kita jangan menjadi orang yang gagal hidup dalam anugerah. Karena orang yang gagal hidup dalam anugerah akan menjadi orang yang terdahulu yang menjadi yang terakhir. ***
