47. “AKU TIDAK PERNAH MENGGANTIKAN UNSUR-UNSUR KESUNGGUHAN HATI DENGAN APAPUN!”
Saya ingin kita kembali kepada yang dikatakan TUHAN, “Bila seorang Daud saja mampu membedakan bahwa air yang dibawa oleh pahlawan-pahlawannya mengandung nilai-nilai persembahan. Terlebih lagi Aku! Aku sangat mengenali sebuah kehidupan yang mengandung unsur penyembahan dan persembahan di hadapan-Ku!”

Sekarang kita bedah arti kehidupan yang mengandung unsur penyembahan dan persembahan itu.
—o0o—
Saya berdoa kepada TUHAN, “Apa TUHAN, artinya kehidupan yang mengandung unsur penyembahan dan persembahan itu?”
Sambil merenungkan perkataan-Nya, TUHAN kembali berkata kepada saya, kata-Nya, “Aku tidak pernah menggantikan unsur-unsur kesungguhan hati dengan apapun!”
Oh! Yang dimaksud dengan kehidupan yang mengandung unsur penyembahan dan persembahan adalah sebuah kehidupan yang dibangun dengan kesungguhan hati di hadapan TUHAN!
Di mata TUHAN unsur-unsur kesungguhan hati merupakan bagian yang paling penting, yang menentukan, dan menjadi perhatian utama-Nya.
Sekarang, mari kita mengalihkan perhatian kita kepada pengertian tentang kesungguhan hati.
—o0o—
Menurut saya, kesungguhan hati itu mempunyai beberapa arti.
Pengertian yang pertama, kesungguhan hati berarti seutuhnya, tidak terbagi, tidak terpecah, dan tidak bercabang.
Setiap kali TUHAN melihat orang-orang yang melayani-Nya, seharusnya TUHAN menemukan keutuhan di dalam hati mereka, seharusnya TUHAN merasakan hati mereka seutuhnya diberikan kepada-Nya dan seharusnya TUHAN melihat hati mereka seutuhnya mengasihi-Nya.
Seutuhnya berarti sepenuhnya, semuanya, segalanya, dan tidak memberikan ruang bagi yang lain.
Tapi masalahnya yang sering muncul di dalam hati umat-Nya adalah tidak seutuhnya, terbagi, terpecah, dan bercabang sehingga tidak ditemukan-Nya kesungguhan hati.
—o0o—
Pengertian yang kedua, kesungguhan hati adalah tidak ada kepura-puraan.
“Apa artinya?”
Tidak ada kepura-puraan artinya tidak perlu ada penampilan palsu, tidak perlu ada pemolesan supaya dilihat banyak orang sebagai orang yang melayani TUHAN, dan tidak perlu ada penyepuhan supaya dipuji banyak orang sebagai orang bersungguh-sungguh di hadapan-Nya.
Orang yang membangun mezbahnya di hadapan TUHAN tidak berpura-pura, karena tidak perlu ada yang mengenakan topeng kemunafikan, dan tidak perlu ada yang bersandiwara di depan banyak orang.
Dan orang yang membangun mezbahnya di hadapan TUHAN fokus kepada kualitas yang seimbang antara penampilan luar dengan bagian manusia batiniahnya.
—o0o—
Dan pengertian yang ketiga, kesungguhan hati adalah kualitas yang mengalir dari dalam ke luar.
Hal ini bertentangan dengan kepura-puraan.
Kita bedah arti kepura-puraan.
Cara kerja kepura-puraaan adalah menonjolkan penampilan luar, dan menutupi kekurangan dan kelemahan.
Agenda utama kepura-puraan adalah supaya tampak rohani, tampak sungguh-sungguh melayani, dan tampak murni.
Tetapi yang namanya kepura-puraan itu, suatu saat pasti akan tampak aslinya, yaitu semuanya palsu, imitasi, sepuhan dan tidak mempunyai kualitas yang sesungguhnya.
Orang yang berpura-pura tidak sedang membangun mezbahnya.
—o0o—
Orang yang membangun mezbahnya dengan kesungguhan hati di hadapan TUHAN adalah orang-orang yang membangun manusia batiniah. Dan orang-orang yang membangun manusia batiniah itu akan mengalir dari dalam ke luar.
Kesungguhan hati membentuk kemurnian yang akan mengalir dari dalam ke luar.
Kesungguhan hati membentuk integritas yang akan mengalir dari dalam ke luar.
Kesungguhan hati membentuk komitmen yang akan mengalir dari dalam ke luar.
Kesungguhan hati membentuk fondasi penyembahan yang mengagumkan di hadapan-Nya yang akan mengalir dari dalam ke luar.
Dan kesungguhan hati membentuk pengabdian yang tulus kepada TUHAN yang akan mengaliar dari dalam ke luar.
Artikel ini diambil dari buku ‘JANGAN MENJADI SISA DI HADAPAN-KU!’. ***
