4. BAHAYA KEKRISTENAN TANPA KESUNGGUHAN HATI

BAHAYA KEKRISTENAN TANPA KESUNGGUHAN HATI. Dari KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), arti kata ‘kesungguhan’ adalah:
- Tidak main-main, dengan segenap hati, dengan tekun, dan benar-benar.
- Berusaha dengan sekuat-kuatnya (dengan segenap hati, dengan sepenuh minat).
Kalau kita merenungkan definisi ‘kesungguhan’ dari KKBI saja sudah begitu dalam artinya, apalagi kalau TUHAN yang memberikan definisi kepada kita.
Saya ingat beberapa waktu lalu, TUHAN menaruhkan perkataan-Nya ke dalam hati saya ketika saya mempersiapkan khotbah, “Aku tidak pernah menukar kesungguhan dengan apapun, tidak ada artinya ibadah tanpa kesungguhan hati di hadapan-Ku!”
—o0o—
Definisi ‘kesungguhan hati’ adalah ‘menaruhkan hati kita dengan benar di hadapan TUHAN’, itulah yang TUHAN taruhkan ke dalam hati saya. Jika kita mengerti menaruhkan atau meletakkan hati dengan benar di hadapan TUHAN, situasi apapun yang kita hadapi tidak akan membuat kita melenceng.
Tidak mudah goyah!
Tidak mudah melempem!
Tidak mudah jenuh!
Dan tidak mudah kehilangan arah!
—o0o—
Jadi, betapa pentingnya kita dididik dan dilatih TUHAN untuk menaruhkan hati kita dengan benar di hadapan-Nya.
Termasuk di segala situasi!
Mulai dari hal-hal kecil, mulai dari hal-hal sederhana, dan mulai dari hal-hal yang tidak terlihat oleh banyak orang.
Kalau Anda menaruhkan hatimu dengan benar, maka ujungnya perjalanan rohani Anda penuh dengan kemuliaan-Nya, berbobot, mengeluarkan jejak ilahi yang membawa kesungguhan hati di hadapan TUHAN, dan membekas di dalam hati banyak orang.
—o0o—
Tetapi kalau untuk urusan kecil saja kita tidak setia, bagaimanakah mungkin kita akan setia untuk urusan yang besar?
Tetapi kalau untuk urusan sederhana saja kita tidak ditemukan dengan benar, bagaimanakah mungkin kita akan benar untuk urusan yang besar?
Jadi, betapa penting hidup kita dibangun dengan pondasi karakter menaruhkan hati dengan benar di hadapan TUHAN.
Kalau urusan yang kecil dan sederhana tidak terbentuk dengan baik, itu artinya kita tidak menaruhkan hati kita dengan benar.
CARA HATI KITA MENGERJAKAN PERKARA-PERKARA KECIL ITU MENJADI PERHATIAN TUHAN
Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar. (Lukas 16:10)
Alkitab menunjukkan bahwa TUHAN memperhatikan dan menilai cara hati kita mengerjakan perkara-perkara kecil itu. Hal ini menunjukkan itu bahwa dari perkara-perkara kecil itu akan memisahkan orang antara mereka yang setia dengan mereka yang tidak setia. Juga perkara-perkara kecil itu akan memisahkan antara mereka yang bersungguh hati dengan mereka yang tidak bersungguh hati.
“Mengapa?”
Karena TUHAN memperhatikan cara hati kita mengerjakannya, dan karena TUHAN menilai langkah-langkah hati kita yang meletakkan hati dengan benar melalui perkara-perkara kecil itu. Karena itu, ‘perkara kecil’ ini bisa menjadi pintu masuk kepada tingkatan yang lebih tinggi, atau ‘perkara kecil’ akan menjadi yang sepele dan tidak mempunyai arti. Tergantung Anda mengerjakan perkara kecil itu!
CARA HATI KITA BERGERAK YANG MENENTUKAN DI HADAPAN TUHAN
Karena itu, kita harus mengerti apa yang menjadi sorotan Roh Kudus. Tentunya bukan besar atau kecilnya pelayanan, melainkan cara hati kita bergerak untuk melayani itu yang menentukan di hadapan-Nya. Bukan pelayanan yang terlihat oleh orang banyak atau tidak, tetapi cara hati kita bergerak untuk melayani itu yang menentukan di hadapan-Nya.
Bukan tugas pelayanan enak dan nyaman atau tugas pelayanan yang tidak enak dan tidak nyaman, tetapi cara hati kita bergerak untuk melayani itu yang menentukan di hadapan-Nya.
—o0o—
Sering saya sampaikan ke jemaat yang kami layani, “Bukan masalah bersih atau tidak bersih ketika kita menyapu ruangan ibadah, tetapi cara hatimu bergerak ketika kita menyapu itu yang penting.”
Untuk membersihkan ruangan ibadah, kita bisa bayar orang untuk melakukannya, tetapi hal ini bukan masalah uang, hal ini adalah masalah meletakkan hati dengan benar di hadapan TUHAN.
Kalau menyapu saja telah menjadi kesukaan TUHAN, karena hati kita bergerak benar di hadapan-Nya, apakah kita melakukannya dengan asal-asalan?
Hendaknya kita akan menyapu ruangan ibadah dengan hati yang penuh penyembahan!
KEKRISTENAN TANPA KESUNGGUHAN
Sekarang kita akan membedah tentang kekristenan tanpa kesungguhan. Yang pertama, tanpa kesungguhan hati, kekristenan yang kita jalani bukanlah kekristenan sejati, melainkan kekristenan imitasi.
“Mengapa?”
Karena tanpa kesungguhan itu menyebabkan kita memilih kebenaran yang cocok dengan kita.
Cucoklogi!
Serba dicocok-cocokan dengan kondisi, bukan kehidupan kita diselaraskan kepada firman TUHAN. Kalau kita telah berani memilih kebenaran, apalagi yang kita pilih adalah kebenaran yang cocok dengan kita, maksudnya kebenaran yang cocok dengan kondisi kita, bahkan sampai dicocok-cocokkan, maka yang sebenarnya yang kita lakukan berujung kepada pembenaran!
Ketika kebenaran menjadi pembenaran, pastilah dibalik pembenaran itu tersembunyi dosa yang kita lakukan.
Pembenaran itu adalah tempat yang untuk menyembunyikan dosa! Karena kita tidak mau bertobat dan tidak mau meninggalkan dosa, cara yang paling nyaman adalah mengubah kebenaran menjadi pembenaran.
—o0o—
Setelah kebenaran menjadi pembenaran, langkah yang akan dilakukan adalah mengawinkan kebenaran dengan kedagingan, dan mengawinkan kebenaran dengan keduniawian. Akhirnya mereka akan mengawinkan kebenaran dengan dosa. Bila hal ini dilanjutkan, ujungnya adalah hati mereka akan menghitam!
—o0o—
Yang kedua, tanpa kesungguhan, kekristenan yang dijalani akan mengutamakan kerajinan. Ketika orang Kristen yang serba-tahu ini berusaha menggantikan kesungguhan hati dengan kerajinan, mereka akan menggunakan gedung gereja sebagai tempat pelarian.
“Pelarian dari apa?”
Pelarian dari tanggung jawab mereka di rumah, di sekolah, di kampus dan di tempat kerja. Bukan saja pelayanan menjadi tempat pelarian, tetapi juga menjadi tempat persembunyian, karena mereka nyaman dalam pelayanan, tanpa berjerih lelah mengerjakan tugas dan tanggung jawab. Mereka melarikan diri dari tugas-tugas yang seharusnya mereka kerjakan. Modalnya hanya pintar cuap-cuap, pintar ngomong dan bergerombol seperti bebek.
Sebaiknya kerjakan tanggung jawabnya dengan baik dan dengan segenap hati, setelah itu barulah pelayanan.
Jangan mengutamakan pelayanan tetapi mengabaikan tanggung jawab! Banyak orang Kristen yang lebih mengutamakan pelayanan dulu, setelah itu barulah mengerjakan tugas-tugas mereka sebagai tanggung jawab mereka! Karena itu, banyak orang Kristen yang rajin pelayanan sekarang, tetapi mereka tidak rajin dalam tanggung jawab mereka!
Yang rajin-rajin pelayanan itu, harus ditilik motivasi pelayanan mereka. Apakah motivasi pelayanan mereka itu tulus, murni, dan mengabdi, atau mereka bisa bersembunyi dan mereka kabur dari tanggung-jawab? Atau mereka mengejar uang!
—o0o—
Ketika orang Kristen yang serba-tahu ini berusaha menggantikan kesungguhan hati dengan kerajinan, mereka akan menggunakan gedung gereja sebagai tempat hobby.
“Hobby apa?”
Hobby pelayanan dong!
Banyak jemaat yang punya hobby pelayanan, tetapi mereka tidak mempunyai kesungguhan hati terhadap pelayanan, sehingga kita banyak menemukan orang-orang yang maunya dilayani, yang maunya melayani yang enak-enak saja, dan yang menghindari pelayanan yang penuh dengan pengabdian dan tidak terlihat banyak orang.
Tidak sedikit pelayanan yang menghindari yang tidak ada uangnya! Kenapa sih pelayanan itu harus berkaitan dengan uang? Seharusnya pelayanan itu berkaitan dengan hati! Ada uang tanpa hati, percumalah pelayanan itu!
Ada hati tanpa uang, saya buktikan banyak pelayanan yang ada hati tanpa uang, mereka lakukan pelayanan dengan baik.
—o0o—
Ketika orang Kristen yang serba-tahu ini berusaha menggantikan kesungguhan hati dengan kerajinan, mereka akan menggunakan gedung gereja sebagai tempat yang sibuk dan sebagai tempat yang menyibukkan diri dengan segala kegiatan yang belum tentu disebut pelayanan.
Bukan berarti semua yang kita kerjakan di gedung gereja itu namanya pelayanan. Banyak yang bisnis koq dalam gedung gereja, dan tersamarkan dengan kata ‘pelayanan’.
Karena ukurannya adalah kerajinan, yang sebenarnya dirajin-rajinkan atau dibuat semakin rajin seperti orang yang berlari di-treatmill yang dipercepat speed-nya, lambat laun mereka terjebak dalam rutinitas yang mengarah kepada kesuaman.
Artikel ini diambil dari buku ‘Hati Yang Menghitam’. ***