19. JANGAN SAMPAI MENGALAMI PENYESALAN KEKAL!

JANGAN SAMPAI MENGALAMI PENYESALAN KEKAL!

warisan yang hilang 2016

Sebuah kalimat yang sedang mengisi hati saya adalah “Jangan sampai mengalami penyesalan kekal!”

Membahas tentang penyesalan, TUHAN mendidik dan mengajar hati saya untuk mengenali tingkat-tingkat penyesalan. Kita mulai dengan sebuah penyesalan yang paling rendah tingkatnya bahkan yang paling tidak berbobot.

—o0o—

Sebuah penyesalan bila Anda makan sebuah masakan yang tidak enak dari sebuah restoran. Saya jamin Anda tidak pernah mau datang ke restoran itu lagi! Saya pernah kecewa dan emoh datang lagi ke restoran itu sampai maranata, hahaha …. maksudnya sampai TUHAN datang.

—o0o—

Lalu, kita naik ke sebuah penyesalan yang lebih tinggi tingkatnya. Seperti Anda membeli sebuah kemeja, dan kemeja itu ketika di fitting room kelihatannya bagus, sehingga Anda memutuskan untuk membelinya, namun setelah sampai di rumah, ternyata kemeja itu tidak bagus untuk Anda.

Saya punya sebuah kemeja yang seperti itu, belum pernah sekalipun saya pakai, dan nasibnya masih tergantung di lemari pakaian sekalipun telah bertahun-tahun.

Mbok ya kemeja itu diberikan ke orang saja, dari pada memenuhi lemari?

Hm … ya, pasti akan saya berikan ke orang lain, hanya saja dia masih belum bisa memakainya.

Kenapa?

Karena kalau diberikan sekarang masih kegedeaan.

Emang buat siapa?

Buat Joel, anak saya! Hahaha …

Huh! Dasar pelit, ngopet, kikir dan sebagainya!

Ya, memang lebih cocok dipakai Joel, hayo … gimana?

—o0o—

Kita lanjutkan.

Penyesalan yang lebih tinggi lagi.

Seperti mengalami kegagalan dalam pangkas rambut. Salah pangkas rambut itu membawa penyesalan beberapa bulan sebab harus menunggu rambut tumbuh dan panjang kembali. Saya lihat beberapa orang yang salah pangkas rambut mereka, terpaksa harus menutupinya dengan sebuah topi. Dan ketika saya mengalami salah pangkas, hal itu benar-benar merusak kecakepan saya.

Wah! ternyata SteHe itu orangnya narsis banget ya?

Tapi narsisnya masih dalam batas kewajaran.

Bukan narsis yang over dosis!

Kita lanjutkan.

Apalagi waktu rambut saya dipangkas sepanjang 1 cm, wah itu sangat mengerikan.

Mengapa?

Itu benar-benar menghancurkan reputasi saya sebagai orang cakep, dan dengan rambut 1 cm itu wajah saya semakin amburadul, hahaha … Jangankan orang lain yang pangling, saya sendiri juga tidak mengenali wajah sendiri.

Mengapa?

Sebab jeleknya ngga ketulungan, juelekkkk buanget!

Koq jadi gini ya wajahku, hancur berantakan begini ya?

Makanya trauma dipangkas sepanjang 1 cm lagi.

Tidak akan pernah pangkas rambut 1 cm lagi, sebab sebab bikin tambah jelek!” tekad saya.

—o0o—

Kita lanjut dengan penyesalan yang lebih tinggi lagi, dan memakan waktu yang lebih lama. Seperti seorang mahasiswa yang gagal ujian, dan harus mengulang tahun depan. Dan saya pernah gagal bertahun-tahun, sampai bosan.

—o0o—

Lalu, sebuah penyesalan yang lebih tinggi lagi dan makin berbobot. Seperti pasangan suami isteri yang terjebak dalam rumah tangga yang morat-marit. Mereka terbenam dalam benang kusut yang rumit, ngejelimet, dan saling menyakiti. Ada yang bertahun-tahun, ada yang belasan tahun, bahkan ada yang seumur hidup dalam penderitaan mereka dalam berumah tangga.

Kasihan!

Sebuah pernikahan yang mengerikan, bagai burung dalam mikrowave, yaitu gosong seumur hidup.

—o0o—

Pernah dalam pertengkaran kami sebagai suami isteri. Joel memberikan sebuah pertanyaan yang menghancurkan hati kami, “Kalau Papa dan Mama cerai, Joel ikut siapa?

Waktu itu umur Joel sekitar umur 5 tahun.

—o0o—

Nah, yang terakhir.

Sebuah penyesalan yang bukan tingkatnya menit atau jam, bukan tingkatnya hari atau minggu, bukan tingkatnya bulan atau tahun, dan bukan tingkatnya belasan tahun atau puluhan tahun.

Tetapi tingkatnya lebih dari itu!

Penyesalan kekal!

Sebuah penyesalan yang bersifat kekal, yang tingkatnya kekal, dan yang benar-benar kekal. Penyesalan kekal ini bisa terjadi bagi kita di hari-hari terakhir ini. Karena itu, sebuah pesan yang ditanamkan melalui buku ini adalah jangan sampai Anda mengalami penyesalan kekal!

—o0o—

Selagi ada waktu, mari kita benahi hidup dan pelayanan kita di hadapan TUHAN. Selagi ada waktu, mari kita fokus kepada pelayanan yang mendatangkan minyak, bukan mengutamakan pelayanan pelita.

Apa artinya pelita tanpa minyak?

Pelita tanpa minyak, tidak mempunyai arti, dan karena tanpa minyak itulah yang membuat gadis-gadis bodoh tidak diizinkan memasuki pesta, sebab mempelai pria itu mengatakan, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu!” (Matius 25:12).

Mumpung masih ada waktu, mari kita bergerak di hadapan TUHAN dengan pengabdian, ketulusan, kemurnian, dan mengejar perkenanan-Nya. Dan marilah kita menata kembali dengan hati yang remuk di hadapan TUHAN bila pengabdian, ketulusan, kemurnian telah terkoyak sehingga gereja menjadi kusam dan kumal.

Artikel ini diambil dari buku ‘WARISAN YANG HILANG’. ***