20. MIMPI-MIMPI YANG DITAKUTI MENJADI KENYATAAN

MIMPI-MIMPI YANG DITAKUTI MENJADI KENYATAAN

Pengawal Impian Tuhan

Karena mimpi-mimpi itulah yang mereka takuti.

Mengapa mereka takut kepada mimpi-mimpi Yusuf?

Karena hati mereka menangkap bahwa mimpi itu bukan mimpi biasa, tetapi mimpi yang TUHAN berikan kepada Yusuf, dan suatu hari kelak mimpi itu akan menetas menjadi kenyataan.

[SteHe]

 

HARAPAN YUSUF YANG TUMBANG

Setelah Yusuf menerjemahkan arti mimpi seorang juru minuman, Yusuf memohon kepadanya supaya ia mengeluarkannya dari penjara itu.

Kata Yusuf kepada juru minuman itu, “Tetapi, ingatlah kepadaku, apabila keadaanmu telah baik nanti, tunjukkanlah terima kasihmu kepadaku dengan menceritakan hal ihwalku kepada Firaun dan tolonglah keluarkan aku dari rumah ini.

Sebab aku dicuri diculik begitu saja dari negeri orang Ibrani dan di sini pun aku tidak pernah melakukan apa-apa yang menyebabkan aku layak dimasukkan ke dalam liang tutupan ini.” (Kejadian 40:14-15)

Sejak hari itu, Yusuf seperti menanam sebuah biji harapan, kemudian menyiraminya setiap hari hingga bertunas dan bertumbuh. Namun, sebelum harapan itu bertumbuh menjadi pohon yang membesar akhirnya ditebang oleh kenyataan pahit bahwa juru minuman yang ditunggu-tunggu dan yang diharap-harap itu tidak ada kabar beritanya, seperti ditelan oleh perut bumi.

Mengapa?”

Karena juru minuman itu telah melupakan Yusuf, sehingga pohon harapan Yusuf itu tumbang, rebah, dan tergeletak.

Mengapa pohon harapan Yusuf itu tumbang?

Karena TUHAN telah membuat lupa juru minuman itu.

Tetapi pengurus minuman itu tidak ingat lagi kepada Yusuf. Ia sama sekali lupa padanya. (Kejadian 40:23, Alkitab Kabar Baik)

Mengapa TUHAN melakukan hal ‘kejam’ itu?

Karena waktu-Nya belum tiba.

TUHAN harus menutup akses pintu keluar Yusuf yang bisa dibuka oleh juru minuman itu.

—o0o—

Mungkin kata-kata terakhir yang dikatakan Yusuf kepada juru minuman itu adalah, “Ingatlah aku, ya? Jangan lupakan aku! Aku akan duduk di sini dan menunggumu!

Ya, aku tidak akan melupakanmu!” janji juru minuman itu.

Tetapi sesuatu yang aneh terjadi, juru minuman itu tidak ingat sama sekali kepada Yusuf dan tentang Yusuf. Yusuf tidak mengetahui apa yang terjadi pada juru minuman yang telah dibuat lupa oleh TUHAN. Mungkin setiap hari Yusuf berpikir, “Mungkin hari ini.” Dan seterusnya, Yusuf berkata kepada dirinya sendiri, “Mungkin hari ini.”

Setiap saat Yusuf berharap agar penjaga penjara menghampiri pintu selnya dan membunyikan kunci-kunci dan berkata, “Keluarlah Yusuf! Waktumu telah tiba, kamu telah bebas!

Tetapi!

Hari-hari berlalu.

Minggu-minggu berlalu.

Bulan-bulan berlalu.

Sampai dua tahun berlalu.

—o0o—

Dalam waktu dua tahun, merupakan dua tahun yang dingin, sepi, penuh penantian, namun bukanlah penantian yang tak berujung, dan tahun-tahun yang kosong.

Mengapa?

Karena TUHAN membuat Yusuf memasuki ‘proses dilupakan’. Sebuah masa ujian yang berat, yaitu dilupakan, diabaikan, dan dibiarkan dalam keheningan-Nya!

—o0o—

Dari tindakan TUHAN terhadap Yusuf itu, sepertinya, Ia tidak mengizinkan ada intervensi luar yang bisa merusak apa yang telah ditetapkan-Nya. Tindakan TUHAN itu yang menyebabkan Yusuf terpaksa harus kembali terkubur dalam rutinitas penjaranya. Kelak, bila waktunya telah genap, TUHAN akan membuka ingatan juru minuman itu.

 “Kapan TUHAN membuka ingatan juru minuman itu?

TUHAN membuka ingatan juru minuman itu di saat-saat yang genting dan penting, yaitu saat Firaun bermimpi.

Tetapi, di samping TUHAN memberikan mimpi kepada Firaun, pekerjaan-Nya di dalam manusia batiniah Yusuf telah rampung, sehingga kualitas dan kapasitas Yusuf telah menjadi padat, kokoh, stabil, dan kaya akan pengenalan dan pengalaman akan TUHAN.

PERJALANAN HATI YUSUF KETIKA DIPISAHKAN TUHAN DARI TANGAN YAKUB

Alkitab mencatat perjalanan hati Yusuf ketika memasuki keheningan-Nya. Sebuah perjalanan yang TUHAN mulai dengan cara memisahkan Yusuf dari tangan Yakub yang adalah anak kesayangan Yakub. Kesalahan Yakub sebagai seorang ayah dari banyak anak adalah ia pilih kasih kepada salah seorang anaknya, dan lebih mengutamakan Yusuf daripada saudara-saudaranya.

Kesalahan ini mempunyai ekor yang panjang, sebab pilih kasih Yakub kepada Yusuf itu, mudah dibaui dan dibaca jejaknya oleh saudara-saudaranya sehingga semakin menyuburkan iri hati dan kebencian mereka terhadap Yusuf.

Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua anaknya yang lain, sebab Yusuf itulah anaknya yang lahir pada masa tuanya; dan ia menyuruh membuat jubah yang maha indah bagi dia.

Setelah dilihat oleh saudara-saudaranya, bahwa ayahnya lebih mengasihi Yusuf dari semua saudaranya, maka bencilah mereka itu kepadanya dan tidak mau menyapanya dengan ramah. (Kejadian 37:3-4)

Morris Cerullo dalam bukunya yang berjudul ‘Sekaranglah Saatnya Anda Disembuhkan Dari Luka Batin’ menerangkan maksud Yakub memberikan jubah kepada Yusuf. Yakub memperlakukan Yusuf dengan sangat berbeda dan menyatakan pula melalui pemberian jubah berwarna-warni kepadanya.

Jubah itu bukan dipakai untuk bekerja melainkan untuk menunjukkan keberadaannya sebagai seorang pemimpin atau pengawas. Jubah itu sangat panjang sampai ke lutut. Saudara-saudara Yusuf melihat bahwa ayah mereka mengasihi Yusuf lebih dari pada mereka sehingga mereka membenci Yusuf.

Kesalahan Yakub yang pilih kasih ini membuahkan reaksi yang salah dari anak-anak yang lainnya.

Mereka mengizinkan akar kebocoran bertumbuh di dalam roh mereka. Mereka merasa tertolak dan terluka sebab mereka tahu bahwa ayah mereka lebih mengasihi Yusuf daripada mereka,” imbuh Morris Cerullo.

—o0o—

Tonny Evans menjelaskan sisi lain yang akan memberikan pengertian lebih jauh tentang arti jubah yang Yakub berikan kepada Yusuf. Dalam bukunya yang berjudul ‘No More Excuses’ ‘TIADA LAGI DALIH’, Tonny mengatakan:

Bagi Yakub, Yusuf adalah anak nomor satunya. Ia menghujani Yusuf dengan kasih sayang dan memberinya jubah yang maha indah. Ketika saudara-saudaranya melihat jubah itu, amarah mereka meledak.

Mungkin Anda berkata, “Mengapa mereka tidak berpikir panjang hanya karena sehelai jubah?

Oh, tetapi jubah itu adalah sebuah barang yang istimewa. Jubah seperti itu adalah sejenis jubah yang seharusnya hanya Anda berikan kepada seorang raja.

Tidak hanya karena jubah itu mahal, tetapi juga saudara-saudaranya yang lain tahu makna dari pemberian itu. Artinya bahwa sang ayah telah memilih dan menetapkan Yusuf, bukan Ruben, untuk menjadi ahli waris keluarga.

—o0o—

Sebelum TUHAN memisahkan Yusuf dari tangan Yakub, TUHAN terlebih dahulu menanamkan visi ilahi melalui mimpi kepada Yusuf tentang apa yang akan terjadi di kemudian hari.

Karena katanya kepada mereka: “Coba dengarkan mimpi yang kumimpikan ini:

Tampak kita sedang di ladang mengikat berkas-berkas gandum, lalu bangkitlah berkasku dan tegak berdiri; kemudian datanglah berkas-berkas kamu sekalian mengelilingi dan sujud menyembah kepada berkasku itu.” (Kejadian 37:6-7)

Sebuah visi ilahi yang diinfuskan TUHAN dalam mimpi Yusuf, dan mimpi ini kelak menjadi kenyataan ketika Mesir akan ditelan bulat-bulat oleh ‘7 tahun masa kekeringan’ yang buas, dan Yusuf, menjadi seorang yang telah disiapkan TUHAN untuk bertugas sebagai pemilik lumbung gandum atas seluruh Mesir.

Ketika itu, saudara-saudaranya datang kepada Yusuf dan akhirnya menyembah Yusuf.

Karena gandum, saudara-saudaranya datang untuk menyembah Yusuf, seperti dalam mimpi yang dinyatakan TUHAN.

Setelah itu, kembali TUHAN menaruh visi ilahi-Nya dalam mimpi Yusuf, kali ini, mimpi yang menyangkut ayah dan ibunya.

Lalu ia memimpikan pula mimpi yang lain, yang diceritakannya kepada saudara-saudaranya. Katanya: “Aku bermimpi pula: Tampak matahari, bulan dan sebelas bintang sujud menyembah kepadaku.”

Setelah hal ini diceritakan kepada ayah dan saudara-saudaranya, maka ia ditegor oleh ayahnya: “Mimpi apa mimpimu itu? Masakan aku dan ibumu serta saudara-saudaramu sujud menyembah kepadamu sampai ke tanah?”

Maka iri hatilah saudara-saudaranya kepadanya, tetapi ayahnya menyimpan hal itu dalam hatinya. (Kejadian 37:9-11)

Sekalipun Yakub mempertanyakan kepada Yusuf, Mimpi apa mimpimu itu? Masakan aku dan ibumu serta saudara-saudaramu sujud menyembah kepadamu sampai ke tanah?

Namun sebagai seorang yang telah terbentuk manusia batiniahnya, hati Yakub menangkap apa yang sedang TUHAN lakukan di dalam hati dan hidup anaknya, dan Yakub menyimpan mimpi-mimpi Yusuf di dalam hatinya.

Dan kelak, memang Yakub dan anak-anaknya yang lain datang menyembah kepada Yusuf seperti yang telah TUHAN nyatakan dalam mimpi Yusuf.

—o0o—

 Setelah TUHAN menanamkan visi ilahi di dalam roh Yusuf, saatnyalah TUHAN bergerak untuk memisahkan Yusuf dari tangan Yakub. Tiba-tiba Yusuf disergap, dilucuti jubah pemberian ayahnya, dan di depan matanya sendiri jubah itu dicabik-cabik oleh cakar iri hati dan dikoyak-koyak oleh taring kecemburuan saudara-saudaranya, kemudian dilumuri darah hewan, seakan-akan Yusuf telah diterkam oleh binatang buas.

Akar kepahitan yang bercokol di dalam hati saudara-saudara Yusuf melahirkan iri hati dan kecemburuan, dan akhirnya meletus menjadi rasa marah yang mendorong mereka untuk merencanakan hal-hal jahat terhadap Yusuf. Kemudian, kisah Yusuf berlanjut mulai dari dibuang ke dalam sumur, dibuang dalam perbudakan, dan akhirnya dibuang dalam penjara yang tak jelas kapan waktu keluarnya.

DAN KITA AKAN LIHAT NANTI, BAGAIMANA JADINYA MIMPINYA ITU!

Sebuah alasan kuat yang mendorong saudara-saudara Yusuf yang iri hati itu untuk membunuh dan membuangnya ke dalam sumur adalah supaya mimpi Yusuf tidak akan menjadi kenyataan!

Dari jauh ia telah kelihatan kepada mereka.

Tetapi sebelum ia dekat pada mereka, mereka telah bermufakat mencari daya upaya untuk membunuhnya.

Kata mereka seorang kepada yang lain: “Lihat, tukang mimpi kita itu datang! Sekarang, marilah kita bunuh dia dan kita lemparkan ke dalam salah satu sumur ini, lalu kita katakan: seekor binatang buas telah menerkamnya. Dan kita akan lihat nanti, bagaimana jadinya mimpinya itu!” (Kejadian 37:18-20)

—o0o—

Saudara-saudara Yusuf berusaha keras membunuh mimpi ilahi itu.

Mengapa?

Karena mimpi-mimpi itulah yang mereka takuti.

Mengapa mereka takut kepada mimpi-mimpi Yusuf?

Karena hati mereka menangkap bahwa mimpi itu bukan mimpi biasa, tetapi mimpi yang TUHAN berikan kepada Yusuf, dan suatu hari kelak mimpi itu akan menetas menjadi kenyataan.

Karena itu, saudara-saudara Yusuf terus menerus mencari cara untuk memadamkan hati Yusuf yang dipenuhi mimpi-mimpi dari TUHAN, supaya tidak menjadi kenyataan, supaya mereka tidak menyembah Yusuf, dan supaya Yusuf tidak menjadi raja atas mereka.

Petrus Agung Purnomo dalam bukunya yang berjudul ‘Kecerdasan Rohani’ menuliskan:

Yang membuat orang lain resah, yang membuat saudara-saudaranya gelisah terhadap Yusuf, bukan karena ia suka melaporkan kejahatan mereka kepada ayahnya, bukan.

Yang meresahkan mereka adalah impiannya, sampai mereka hendak membunuhnya untuk melihat apa jadinya dengan impiannya.

Karena saudara-saudaranya benci pada impiannya.

—o0o—

Dan kita akan lihat nanti, bagaimana mimpinya itu!” ejek saudara-saudara Yusuf.

Mengapa mereka berbuat demikian?

Karena saudara-saudaranya mempertanyakan kehidupan mimpi Yusuf, bila Yusuf dibunuh dan dibuang ke dalam sumur.

Manakah mungkin mimpi itu menjadi kenyataan?” ejek mereka lagi.

“Mungkin! Kita lihat bila tiba waktunya!” seru TUHAN tegas.

Artikel ini diambil dari buku ‘PENGAWAL IMPIAN TUHAN (RENEW)’. ***