5. HATI YANG BERPALING KEPADA TUHAN

HATI YANG BERPALING KEPADA TUHAN. Saya bertemu dengan banyak orang yang rata-rata mempunyai luka dalam hati mereka.
Minimal pernah terluka.
Dari kebanyakan orang yang terluka ini, kita menemukan fakta tentang peristiwa-peristiwa yang melukai sebagai fakta yang tidak bisa diubah. Tetapi kalau kita tilik secara perlahan, belum tentu peristiwa-peristiwa yang melukai itu tergolong sebagai peristiwa-peristiwa yang melukai. Bahkan mungkin peristiwa-peristiwa yang melukai itu bukanlah peristiwa-peristiwa yang melukai.
Karena kita terlalu gegabah dalam berespon maka peristiwa-peristiwa yang tidak melukai menjadi peristiwa-peristiwa yang melukai. Karena kita salah sangka, salah duga dan salah persepsi maka peristiwa-peristiwa itu menjadi peristiwa-peristiwa yang melukai. Dan ketika peristiwa-peristiwa itu menjadi peristiwa-peristiwa yang melukai, maka hal itu menjadi fakta yang tidak bisa diubah.
Karena itu sangat penting bagi kita mempunyai kualitas hati yang tenang dan teduh, supaya kita bisa menilai semua peristiwa yang kita alami, melihat dari banyak sudut, dan berusaha melihat gambaran utuh. Ujungnya kita dapat melihat tangan TUHAN bekerja dan melihat rencana-Nya dibalik semua peristiwa yang diizinkan terjadi dalam kehidupan kita.
—o0o—
Biasanya ketika peristiwa-peristiwa yang melukai itu diklarifikasi. Hal itu membuat kita mampu melihat gambaran utuh dari peristiwa-peristiwa itu maka secara otomatis laras kemarahan, laras kebencian, dan laras ingin membalas melukai itu diturunkan.
Tidak lagi laras itu diarahkan kepada orang lain.
Tanpa gambaran utuh banyak di antara kita menjadi tersesat!
—o0o—
Kalau ternyata peristiwa-peristiwa yang melukai itu adalah peristiwa-peristiwa yang tidak melukai, berarti fakta tentang keterlukaan dibuat oleh kita sendiri. Atau kita terluka oleh kesalahan yang kita buat sendiri, bukan oleh orang lain. Di saat itu, seharusnya menyadarkan kita bahwa penyebab terluka itu karena salah sangka, salah duga dan salah persepsi.
Seharusnya kita memilih untuk terlepas dari rasa sakit itu dan memilih jalan pemulihan dan kesembuhan.
Tetapi kalau kita tetap mendekam dalam rasa sakit dari peristiwa-peristiwa yang melukai itu, berarti kita sedang menyuburkan racun dalam hati kita, sedang membiarkan rumput liar bertumbuh subur, dan sedang membiarkan akar kepahitan yang menyiksa itu membunuh secara perlahan di dalam hati kita, ujungnya hati kita menghitam.
Hal itu berarti kekerasan hati dan kesombongan yang menyebabkan kita memilih untuk mendekan dalam kesalahan yang dibuat sendiri. Seperti orang yang membuat lubang untuk mengubur dirinya sendiri! Menurut saya, bagus di batu nisannya ditulis, “Di sini tempat pembaringan terakhir seorang yang tinggal dalam kebodohan dan keras-kepala.”
ARTI HATI YANG BERPALING KEPADA TUHAN
Tentang ‘hati yang berpaling’, gambaran awal bagi saya seperti sebuah pesawat terbang yang sedang terbang ke arah bawah. Itu artinya harus ditarik tuasnya supaya arahnya naik, kalau tidak pesawat itu akan menabrak bumi dan hancur. Jadi berbicara tentang ‘hati yang berpaling’ itu berbicara tentang mengubah arah hati kita.
Seperti si bungsu dalam perumpamaan tentang ‘anak yang hilang’ (Lukas 15:11-32).
Dalam perumpamaan itu, si bungsu yang berhasil mengubah arah kehidupannya dengan cara mengubah hatinya.
Hal itu dimulai dengan pemulihan dan kesembuhan di tingkat hati, hasilnya pemulihan dan kesembuhan dari-Nya akan menjalar ke seluruh sisi kehidupan kita, akan menjalar ke seluruh bagian kehidupan, termasuk luka-luka yang telah menua dalam hati kita, yang telah dipacking dan dimasukkan ke dalam peti besi serta telah dibuang kuncinya karena tidak pernah berharap peti besi itu dibuka kembali.
Sebenarnya ketika Anda menyalakan alarm untuk meminta pertolongan dari TUHAN, maka TUHAN akan menukik dan akan menyergap Anda dan memenuhi hati Anda dengan kasih-Nya. Dan mengisi tahun-tahun hidup Anda akan penuh dengan kebaikan-Nya yang memulihkan dan menyembuhkan. Mungkin tahun-tahun sebelumnya hati kita menjadi penuh luka dan menjadi beracun karena kita memasuki lorong gelap yang berduri, setiap langkah akan menambah luka saja.
Kalau begitu keadaan hati Anda, saya ingin mengajak Anda untuk mengalami pemulihan dan kesembuhan dari TUHAN, penyembuh yang ajaib bagi kita. Tidak ada yang tidak bisa dipulihkan dan disembuhkan oleh-Nya. Dan tidak ada ruang gelap dalam hati kita yang tidak bisa dimasuki-Nya. TUHAN sanggup mengubah hal-hal yang paling beracun dalam hati kita menjadi sebuah kehidupan baru dengan hati yang telah dipulihkan dan disembuhkan. Efek dari hati yang telah dipulihkan dan disembuhkan-Nya itu seperti berakhirnya musim kering dan munculnya musim baru dalam kehidupan kita, yaitu musim semi, yang menumbuhkan tunas-tunas baru.
—o0o—
Kita kembali ke si bungsu. “Apa yang si sulung katakan tentang si bungsu?”
Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu tambun itu untuk dia. (Lukas 15:30)
Kalau saja si bungsu mendengar apa yang dikatakan oleh si sulung tentang dirinya, si bungsu itu akan semakin menundukkan kepalanya.
“Itu sebuah kesalahan yang memalukan!” kata si bungsu dalam hati.
“Apa yang sebenarnya dilakukan oleh si sulung itu?”
Si sulung menunjukkan kesalahan si bungsu, dan juga menunjukkan kesalahan ayahnya. Selain itu, si sulung menunjukkan prestasinya.
Tetapi ia menjawab ayahnya, katanya: Telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. (Lukas 15:29)
Bukan saja menunjukkan prestasi tetapi juga pembuktian kalau dirinya lebih baik dari si bungsu.
MASALAH GEREJA HARI INI ADALAH MASALAH PRESTASI DAN PEMBUKTIAN YANG LEBIH BAIK DARI ORANG LAIN
Masalah gereja hari ini adalah ketika si bungsu pulang, si sulung tidak terima atas perlakukan ayah terhadap si bungsu. Ketidak-terimaan si sulung itu menyebabkannya kehilangan hal terpenting dalam kehidupannya, yaitu hati yang bersekutu (heart of fellowship). Sementara si bungsu yang memiliki hati yang berpaling, sehingga ia mengalami anugerah-Nya.
—o0o—
Perhatikanlah konflik-konflik dalam gereja hari ini.
Apapun konfliknya akan terlihat tentang masalah prestasi dan pembuktikan diri yang lebih baik dari orang lain.
Selalu saja ada orang yang hobbynya berdebat untuk membuktikan dirinya lebih benar dari orang lain. Selalu saja ada orang yang hobbynya merasa lebih baik dari orang lain. Dan selalu saja ada orang yang hobbynya menonjolkan prestasinya dengan cara menyalahkan dan menjelek-jelekkan orang lain.
Apapun caranya, ketika terjadi konflik pasti berkaitan dengan prestasi dan pembuktian diri yang lebih baik dari orang lain. Kalau Anda terseret dalam penonjolan prestasi dan pembuktian diri itu berarti Anda adalah salah satu si sulung yang menghambat banyak orang datang kepada TUHAN.
PERTUMBUHAN SEJATI DAN PERTUMBUHAN PALSU
Perhatikan kebenaran ini!
Pertumbuhan berhenti ketika ‘merasa telah penuh’.
Pertumbuhan palsu karena ‘merasa lebih baik dari orang lain’.
Pertumbuhan sejati itu bukan karena ‘merasa telah penuh’ dan juga bukan ‘merasa lebih baik dari orang lain’, melainkan karena semakin selaras dengan kehendak TUHAN.
MASALAH YANG PALING PENTING ADALAH MASALAH HATI
Di hari-hari terakhir ini, masalah yang paling penting adalah masalah hati! Bukan masalah uang, bukan masalah kebutuhan yang tidak terpenuhi, dan bukan masalah pertengkaran atau keributan. Tetapi masalah hati.
“Mengapa?”
Karena hati kita menjadi arah yang menentukan kehidupan kita! Timbul tenggelamnya kehidupan kita ditentukan oleh kondisi hati kita. Padam benderangnya kehidupan kita ditentukan oleh arah hati kita. Dan menyusut melebarnya kehidupan kita pun ditentukan oleh kapasitas hati kita. Karena itu, di saat-saat yang menentukan ini, milikilah hati yang berpaling kepada TUHAN.
MASALAH MENGIZINKAN TUHAN BEKERJA DALAM HATI KITA
Jadi, masalah hati yang berpaling kepada TUHAN adalah masalah mengizinkan TUHAN bekerja dalam hati kita.
Ketika hati yang berpaling kepada TUHAN itu bertumbuh dalam hati kita, maka hal yang akan kita lakukan adalah kita akan belajar bergantung kepada-Nya, bahkan di tengah-tengah rasa sakit yang berusaha membuat kita menderita.
Sekarang waktunya bagi Anda untuk mengubah arah kehidupan Anda dengan cara mengubah hati Anda.
Cara mengubah hati Anda dimulai dengan hati yang berpaling kepada TUHAN.
Artikel ini diambil dari buku ‘Hati Yang Menghitam’. ***