10. KEMATIAN ROHANI YANG MERAYAP SECARA PERLAHAN DI DALAM GEREJA

BUKU KEGELAPAN ROHANI

KEMATIAN ROHANI YANG MERAYAP SECARA PERLAHAN DI DALAM GEREJA. Tahun 2018 merupakan tahun yang penuh dengan dorongan untuk menulis, lebih dari 6 buku yang diselesaikan.

“Mengapa disebut lebih dari 6 buku, Bro. SteHe?”

Karena ada beberapa buku masih dalam proses penulisan, namun belum bisa disebutkan telah selesai menjadi buku.

Kalau semuanya dianggap selesai, kira-kira berapa buku?

Hm … 8 buku.

—o0o—

 “Mengapa Bro. SteHe terasa mengebut dalam menulis?

Karena saya merasakan dorongan untuk menulis semakin kuat, bahkan bertambah kuat, sehingga saya seperti tanpa henti untuk menulis dan menulis, kapanpun dan di manapun, termasuk di toilet. Keluarga saya tahu kalau saya ke toilet pasti bawa MacBook Air dan lumayan lama kalau sudah berada di toilet sambil mengetik.

Sampai sekarang ini, kalau saya menulis buku itu tidak hanya 1 buku. Bisa menulis beberapa buku sekaligus secara paralel, atau berbarengan.

Seperti sekarang ini, buku ‘Kegagalan yang Diubah TUHAN’ dalam proses penulisan, buku ‘Kegelapan Rohani’ telah dimulai jalan bab 1 menuju ke bab 2, sementara buku ‘Mengalami Promosi Ilahi’ sedang disiapkan konstruksinya.

Setelah itu, ketiga buku ini berjalan bersamaan dalam proses penulisannya. Banyak orang mengatakan kalau saya sangat produktif menulis, bahkan ada yang mengatakan penulis yang paling produktif.

Ya, itu kata orang-orang.

Karena mereka tidak mengenal saya dari dekat.

Bagi saya, dorongan dari TUHAN itu jauh lebih penting dari apapun.

Karena dorongan itu seperti api yang tidak bisa dipadamkan!

Terus menyala di dalam hati saya.

Terus berkobar, bahkan memerah indah di dalam hati saya.

Dan buku-buku itu adalah persembahan hati saya untuk TUHAN Yesus yang sangat saya kasihi.

—o0o—

Saya berdoa, semoga buku-buku ini menjadi ‘benih ilahi’ yang ditaburkan ke hati pembaca di mana pun mereka berada, dan semoga buku-buku ini juga menjadi pemantik hati yang menyalakan kebenaran, yang menyalakan kegelisahan ilahi, dan juga menyalakan alarm tentang adanya ‘Kegelapan Rohani’ di dalam gereja-Nya.

DIPANGGIL KELUAR KEMBALI DARI KEGELAPAN ROHANI

Hal yang mengerikan adalah ketika TUHAN memanggil keluar umat pilihan-Nya (baca 1 Petrus 2:9) dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib. Tetapi di hari-hari terakhir ini, TUHAN harus memanggil kembali umat-Nya dari ‘Kegelapan Rohani’.

“Mengapa?”

Karena banyak gereja yang tinggal dalam ‘Kegelapan Rohani’.

“Mengapa banyak gereja tinggal dalam ‘Kegelapan Rohani’?”

Karena banyak gereja membiarkan kegelapan menguasai hati para pemimpin pelayanan, aktivis pelayanan dan jemaat yang mereka layani. Hal ini mengakibatkan banyak gereja yang hambar, dingin, dan megap-megap secara rohani, lalu mati secara rohani.

Sekalipun mereka tidak kekurangan aktivitas pelayanan, dan jadual pelayanan yang padat bahkan bertambah-tambah, serta jumlah jemaat yang bertambah pula, namun kondisi mereka jenuh dan terjebak dalam rutinitas. Saya perhatikan banyak aktivis pelayanan bahkan pemimpin pelayanan yang kelelahan dan jenuh secara rohani.

GEREJA YANG KERING

Gereja yang kering itu sama seperti pohon yang tumbang. Saya memperhatikan pohon tumbang selama beberapa minggu, mulai hari pertama tumbang hingga rontok semua daun-daunnya. Sampai pohon itu benar-benar almarhum, tidak terjadi dalam seketika, namun bisa beberapa minggu.

Pada hari pohon itu tumbang, pohon tumbang itu hampir tidak terjadi perubahan sedikitpun. Paling kondisinya rebah atau berbaring di tanah. Sepertinya semuanya tampak baik-baik saja, tidak ada kekurangan sedikitpun, tidak banyak daunnya yang rontok.

Tetapi hal utama yang tidak bisa dibantah adalah pohon tumbang itu pasti kehilangan kehidupan! Kalau pohon tumbang itu merasa tidak kekurangan apapun, karena di dalam tubuhnya masih punya ‘sisa kehidupan’. Ketika ‘sisa kehidupan’ itu habis, maka pohon itu mulai disergap kematian.

Mulai dari perubahan warna dari daun-daunnya yang hijau, mulai menguning, lalu coklat muda, coklat tua, dan akhirnya rontok hingga habis. Dan batang pohon itupun menjadi kayu mati.

—o0o—

Sekarang ini banyak gereja yang telah kehilangan hal yang utama, dan mereka mengganti dengan hal-hal yang tidak utama, bahkan mereka berlomba-lomba untuk menjadi yang terkeren supaya dikagumi banyak orang dan diacungi 4 jempol.

“Tetapi apa artinya acungan 4 jempol dari manusia kalau gereja telah kehilangan yang utama?”

“Untuk apa menjadi gereja yang terkeren menurut versi manusia, tetapi kondisinya yang sebenarnya berada dalam ‘Kegelapan Rohani’?” Semuanya menjadi sia-sia, dan tidak mengandung unsur kekekalan!

KEMATIAN ROHANI TERJADI SECARA PERLAHAN

Di hari-hari terakhir ini, hal yang mengerikan adalah ketika gereja kehilangan yang utama.

Hal itu berarti tersesat!

Tersesat itu bisa terjadi bukan karena pengajaran sesat, sekalipun potensi ke arah itu bisa terjadi. Tersesat yang saya maksud itu adalah tersesat oleh hal-hal baik, tersesat oleh hal-hal kecil, dan tersesat oleh hal-hal yang bukan utama.

“Apa artinya ‘tersesat oleh hal-hal baik, tersesat oleh hal-hal kecil, dan tersesat oleh hal-hal yang bukan utama’?”

Artinya kita mengalami pembelokan dari tujuan utama. Melenceng sedikit demi sedikit. Bergeser sedikit demi sedikit. Dan berubah sedikit demi sedikit. Semuanya serba sedikit demi sedikit, tanpa terasa dan tanpa kehilangan apapun.

—o0o—

Pembelokan itu bukanlah kepada hal-hal yang jahat dan kepada hal-hal yang najis, tetapi karena ‘hal-hal yang baik, hal-hal kecil, dan hal-hal yang bukan utama’.

Pembelokan yang tidak kentara. Pembelokan yang secara perlahan. Dan para pemimpin pelayanan tidak merasakan sedikitpun. Tetapi semua belokan menjadi belokan salah yang menjauhkan gereja-Nya dari tujuan-Nya.  Hal ini menjadikan gereja semakin menjauh dari hati-Nya.

—o0o—

Kematian rohani itu terjadi secara perlahan. Gereja yang mengalami kematian rohani itu tidak menyadarinya. Dan hal itu terjadi karena tidak ada kesesuaian dengan hati Yesus.

GEREJA MATI

Tadi saya sungkan untuk menulis tentang ‘gereja mati’.

“Mengapa?”

Karena saya merasa minder dan tidak kompeten untuk menuliskan hal itu. Setelah lama pikirkan dan saya memberanikan diri untuk menuliskan tentang ‘gereja mati’.

“Apa artinya ‘gereja mati’?”‘Gereja mati’ adalah gereja yang telah kehilangan unsur ilahi di dalamnya, sehingga yang tersisa hanyalah acara ibadah saja, hanyalah kesibukan aktivitas agamawi belaka.

Hal itu terjadi karena tidak ada tempelakan Roh Kudus, dan tidak ada jamahan-Nya. Juga karena mengidap ‘Kegelapan Rohani’ yang mengerikan.

—o0o—

Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Sardis: Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang itu: Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati! (Wahyu 3:1)

Setelah saya melayani di berbagai tempat, saya semakin yakin tentang ‘gereja mati’ ini.

Ukuran ‘gereja mati’ itu bukan terletak kepada jumlah jemaat yang hadir setiap ibadahnya, bukan terletak kepada hal-hal fisik sebab saya perhatikan ada gereja yang banyak jemaatnya dan hingar bingar panggungnya, tetapi Roh Kudus tidak betah berada di tengah-tengah mereka.

Saya juga merasakan perasaan yang aneh ketika memuji TUHAN, acara sebelum saya khotbah.

Apa Bro?

Malas sekali untuk ikut memuji TUHAN. Terasa berat waktu penyembahan, karena penyembahan yang dilakukan itu hanyalah basa-basi saja, bukanlah penyembahan yang berkenan di hadapan TUHAN.

Kalau gembalanya saja melirik ke saya, barulah saya bertepuk tangan sebentar, bertepuk tangan sedikit, atau mengangkat tangan, setelah itu tidak lagi.

Malas sekali!

Oh TUHAN, kenapa ya saya koq malas sekali di gereja ini?” tanya saya dalam hati kepada TUHAN.

Sebentar lagi akan khotbah, dan perasaan malas justru semakin menguasai saya.

Ada apa dengan gereja ini, ya?

Padahal kalau dilihat dari antusiasnya orang-orang yang berada di panggung itu begitu luar biasa, jemaatnya juga antusias, tetapi saya merasakan kondisi gereja ini sangat dingin.

Tanpa ada perasaan menghakimi, saya berani mengatakan kalau jemaat di gereja ini sebenarnya tidak mencari TUHAN.

Mereka tidak mempunyai kehausan untuk menyukakan hati TUHAN.

Mereka hanya datang beribadah untuk memenuhi kebutuhan agamawi saja.

Pada intinya, ‘gereja mati’ itu karena tidak membuat Roh Kudus betah tinggal di antara umat-Nya.

—o0o—

Dalam perjalanan hidup saya, TUHAN mendidik dan mengajar hati saya bahwa membuat Roh Kudus betah tinggal di antara umat-Nya adalah hal pertama dan hal utama. Semua ibadah tanpa kehadiran-Nya, seperti tanaman di pot yang tidak diairi, akan kering dan mati.

Karena itu, tidak mengherankan sekarang ini, begitu banyaknya gereja sedang mengarah kepada kematian rohani.

—o0o—

Yang membuat gereja itu hidup adalah kehidupan yang dibangun di hadapan TUHAN. Hal itu menunjukkan munculnya hati yang mau ditempelak oleh Roh Kudus.

Ketika hati mau ditempelak oleh Roh Kudus menunjukkan munculnya hati yang mau dibersihkan dan dibereskan. Dan ketika hati yang dibersihkan dan dibereskan itu menunjukkan munculnya hati yang memberikan space atau ruang kepada-Nya untuk bergerak dalam kehidupan  kita.

Sekarang ini, gereja terlalu sibuk dan padat dengan acara, sehingga tidak ada space bagi-Nya untuk berbicara dan menjamah hati umat-Nya.

—o0o—

Setiap kali gereja tanpa kehadiran Roh Kudus, tanpa intervensi Roh Kudus, dan mengabaikan-Nya sehingga gereja menjadi dingin dan berdebu. Kondisi gereja seperti itu yang terjadi kepada kehidupan Saul, yaitu Roh TUHAN undur dari kehidupannya.

Tetapi Roh TUHAN telah mundur dari pada Saul, dan sekarang ia diganggu oleh roh jahat yang dari pada TUHAN. (1 Samuel 16:14)

Banyak kondisi gereja yang tanpa kehadiran Roh Kudus lagi, bahkan ada gereja di mana dahulu kehadiran Roh kudus begitu kental dan tebal, sekarang tidak ada sama sekali.

Kering, dingin, dan mati!

Artikel ini diambil dari buku ‘Kegelapan Rohani’. ***