14. BERKENAN TIDAKNYA PELAYANAN YANG KITA LAKUKAN DI HATI TUHAN
BERKENAN TIDAKNYA PELAYANAN YANG KITA LAKUKAN DI HATI TUHAN. Di hari-hari terakhir ini, masalah utama yang menjadi sorotan TUHAN adalah bukan besar kecilnya pelayanan kita, bukan banyak sedikitnya pelayanan kita, dan bukan kaya miskinnya (secara materi) pelayanan kita, tetapi berkenan tidaknya pelayanan yang kita lakukan di hati TUHAN.

Kalau berbicara tentang berkenan tidaknya pelayanan kita, berarti berbicara tentang bagaimana cara hati kita mengerjakan pelayanan itu. Kalau berbicara tentang cara hati kita mengerjakan pelayanan, berarti berbicara tentang dasar hati kita dalam mengerjakan pelayanan itu. Dan kalau berbicara tentang dasar hati kita dalam mengerjakan pelayanan itu, berarti hal itu berbicara tentang kemurnian, ketulusan dan pengabdian di hadapan TUHAN.
—o0o—
Fenomena hari ini banyak pemimpin pelayanan menonjolkan keberhasilan pelayanan mereka, hal ini menyebabkan mereka yang melayani dalam jumlah sedikit, pelayanan yang kecil, dan kumuh merasa minder. Terlihat ada yang membanggakan pelayanan, dan juga ada yang minder. Keduanya merupakan sikap hati yang tidak tepat di hadapan TUHAN.
“Mengapa?”
Karena fokus kita harus terarah bukan kepada besar kecilnya sebuah pelayanan, melainkan kepada keseiramaan dengan Roh-Nya, keserasian dengan pikiran dan perasaan-Nya, dan kesesuaian dengan hati-Nya.
Hal itu berbicara tentang pengejaran akan Roh-Nya!
Supaya tidak tertinggal oleh-Nya.
Supaya tetap berada dalam pimpinan-Nya.
Dan supaya Roh-Nya tetap bergerak dalam kehidupan dan pelayanan!
—o0o—
Gereja hari ini seperti penyelam.
Ada yang menyelam di sekitar pantai untuk melihat ikan-ikan kecil, tanaman laut, dan karang-karang yang indah.
Mereka hanya memakai snorkling saja, tanpa perlu peralatan menyelam lengkap.
Karena tingkatnya hanya di tingkat pantai saja, maka mereka bermanuver dengan cara memperindah alat-alat yang mereka gunakan untuk menyelam di sekitar pantai saja.
“Mengapa mereka lakukan itu?”
Karena mereka tidak mampu menyelam lebih dalam.
Karena itu tidak mengherankan gereja-gereja berlomba-lomba menciptakan hadirat palsu melalui panggung.
Hal ini dilakukan karena mereka menyadari akan kondisi ‘tepi pantai’ yang tidak ada hadirat-Nya, namun mereka tidak mampu menyelam lebih dalam lagi, maka mau tak mau mereka menciptakan hadirat palsu sebagai pengganti hadirat TUHAN yang berasal dari kedalaman.
Hanya sampai kapan jemaat betah dengan hadirat palsu itu?
—o0o—
Hadirat palsu itu tidak mengenyangkan, hanya berpura-pura kenyang saja. Karena itu, kita lihat banyak jemaat yang terlihat ‘berisi’ padahal ‘tidak berisi’, terlihat ‘kenyang’ padahal tidak ‘kenyang’, terlihat ‘kaya’ (secara rohani) padahal tidak ‘kaya’.
Semua hanya ‘terlihat’ saja, tetapi tidak benar-benar mengalami TUHAN. Banyak gereja tanpa hadirat TUHAN sepanjang tahun, sehingga kondisi hidup jemaat juga kering, tanpa kehidupan dan dingin. Dan lambat laun mengarah kepada kematian secara rohani.
—o0o—
Hari ini juga saya melihat ada gereja yang tidak lagi berada di pinggir pantai, mereka telah bergerak dengan menyelam ke tempat yang lebih dalam, bahkan ada gereja yang ‘gila’ sehingga mereka menyelam dalam kedalaman yang sangat dalam.
Mereka benar-benar menyelam dalam tingkat hadirat TUHAN yang lebih tinggi, bahkan beberapa telah menembus bukan di tingkat hadirat-Nya melainkan di tingkat kemuliaan. Sebuah perjalanan yang tidak mudah dimasuki!
—o0o—
Ada gereja dengan tingkat kedagingan dan tingkat keduniawian yang begitu menyedihkan. Ada gereja dengan tingkat pewahyuan, tingkat kekudusan, dan tingkat kepresisian yang sangat memukau. Dari sini, kalau boleh saya katakan dengan hati dan dengan hati-hati betapa jomplangnya antara gereja yang parah dengan gereja yang memukau.
Mata saya bukan menilai dari sudut pandang manusia, tetapi dari sudut pandang TUHAN, bahwa selama gereja yang ‘parah-parah’ ini tidak membentangkan hati di hadapan-Nya, maka gereja-gereja ini tidak akan masuk ke ‘tanah perjanjian’. Karena mereka tidak bisa melepaskan ‘ke-Mesir-an’ dan mereka tidak bisa keluar dari padang gurun sebagai pemenang, akibatnya mereka tidak bisa masuk ke ‘tanah perjanjian’.
Artikel ini diambil dari buku ‘BENTANGKAN HATIMU!’. ***
