63. ORANG YANG TELAH MENERIMA ANUGERAH, TETAPI GAGAL HIDUP DALAM ANUGERAH – 1
Membahas tentang anugerah, kita harus memulai dengan membedakan mana yang anugerah dan mana yang bukan.

Kalau kita tidak dapat membedakan di antara keduanya itu, maka kita tidak akan mempunyai pengertian yang dalam tentang anugerah.
Dan kalau kita tidak mempunyai pengertian yang dalam tentang anugerah, berarti pengertian kita tentang anugerah dangkal.
“Apa yang terjadi kalau pengertian kita tentang anugerah dangkal?”
Kita akan mudah menghilangkan anugerah.
Lihat saja perumpamaan tentang hamba yang berhutang 10.000 talenta dan perumpamaan orang-orang upahan di kebun kebun anggur.
Yesus menjelaskan kepada kita tentang orang-orang yang menerima anugerah tetapi mereka gagal hidup dalam anugerah.
SISI ANUGERAH
Dalam perumpamaan ini, hamba yang berhutang 10.000 talenta adalah orang yang menerima anugerah (baca: Matius 18:21-35).
Sekalipun hutangnya sangat besar dibebaskan sehingga ia tidak berhutang sepeser pun.
Melalui perumpamaan ini, Yesus menjelaskan kalau anugerah itu sanggup menutupi hutang yang sangat besar.
Artinya, anugerah itu jauh lebih besar dari hutangnya.
SISI BUKAN ANUGERAH
Namun sayangnya, hamba yang telah menerima anugerah itu menghilangkann anugerah yang telah diterimanya.
“Dengan cara apa ia menghilangkan anugerah?”
Dengan bertindak kejam kepada temannya yang berhutang 100 dinar.
Hal ini berarti, sekalipun kita telah menerima anugerah tetapi kita bisa gagal hidup dalam anugerah seperti hamba yang berhutang 10.000 talenta itu.
KITA BANDINGKAN 10.000 TALENTA DAN 100 DINAR
Kalau kita bandingkan antara 10.000 talenta dengan 100 dinar itu tidak pernah sebanding karena sangat jauh perbedaannya.
Sekalipun kita ubah jumlah hutang temannya dari 100 dinar menjadi 10.000 dinar, tetap saja 10.000 dinar itu tidak pernah sama dengan 10.000 talenta.
Jadi kalau hutang 10.000 dinar dikonversikan ke dalam mata uang talenta, berarti hanya 2 talenta kurang, sebab 1 talentar sama dengan 6.000 dinar.
“APA YANG SEHARUSNYA DILAKUKAN ‘SI HAMBA 10.000 TALENTA’?”
Seharusnya, sepulang dari istana, ketika ia bertemu dengan temannya yang berhutang 100 dinar, ia menceritakan apa yang dialaminya.
Sampai akhirnya, ia berkata kepada temannya itu, “Hai kawan, tahukah kamu kalau hutangku yang sangat besar itu dihapuskan. Sekarang bagaimana kalau kamu mendapatkan hal yang sama.”
“Berapa hutangmu?”
“Hutangku padamu, 100 dinar.”
“Saat ini, aku hapuskan hutangmu!”
“Oh, terima kasih untuk kebaikan hatimu, kawan!”
—o0o—
Lalu ia pulang ke rumahnya dan menceritakan penghapusan hutang kepada istrinya kalau hutangnya yang 10.000 talenta itu telah dilunaskan.
Lalu istrinya meminta kepada suaminya supaya hutang tetangga depan rumah juga dilunaskan.
“Berapa hutangnya?”
“50 dinar.”
“Ya, kita hapuskan, sekarang Mama datangi rumahnya dan katakan kalau hutangnya dilunaskan.” ***
