29. SEPERTI ULAR YANG MENGGIGIT EKORNYA SENDIRI
SEPERTI ULAR YANG MENGGIGIT EKORNYA SENDIRI
Saya adalah orang yang suka dengan ilustrasi. Dalam obrolan atau dalam khotbah sering muncul ilustrasi-ilustrasi yang serba mendadak. Biasanya kalau ada ilustrasi yang bagus, atau nyentrik, saya akan menuliskannya di handphone untuk penulisan buku.

Dalam bab ini, saya ingin membahas tentang ilustrasi ‘seperti ular yang menggigit ekornya sendiri’. Hal ini berarti sebuah kebodohan yang berujung kepada kematian.
—o0o—
Ia memerintah sebagai hakim atas orang Israel dalam zaman orang Filistin, dua puluh tahun lamanya. (Hakim-hakim 15:20)
Dalam kehidupan Simson yang selama 20 tahun melayani sebagai hakim di Israel, tiba-tiba muncul keisengan, dan keisengannya itu merupakan kebodohan yang berujung kepada kematiannya.
Pada suatu kali, ketika Simson pergi ke Gaza, dilihatnya di sana seorang perempuan sundal, lalu menghampiri dia. (Hakim-hakim 16:1)
Perhatikan kalimat, ‘Pada suatu kali, …’
‘Pada suatu kali,’ itu berbicara tentang keliaran yang menyebabkan Simson tergelincir. Entah apa yang menyebabkan Simson tergelincir, padahal ia sedang berada di pengadilan.
Dalam Alkitab tertulis ‘Simson pergi ke Gaza’.
“Ada apa dengan Gaza?”
Gaza adalah markas besar Filistin, sekitar 40 km dari tempat asal Simson, Zora.
Lalu seperti Daud, Simson melakukan keisengan, yaitu Simson melihat seorang perempuan sundal, lalu menghampiri dia.
Itulah yang saya sebut dengan istilah ‘seperti ular yang menggigit ekornya sendiri’.
Simson merusak pengurapan dan pemakaian-Nya dengan menghampiri seorang pelacur.
Simson berpikir tidak akan terjadi apa-apa apabila ia menghanyutkan diri dalam keliaran, membenamkan diri dalam kemelencengan, dan menjauhi standar kekudusan.
“Semuanya akan baik-baik saja, dan tidak akan terjadi apa-apa!”
“Tetapi siapa yang bilang begitu?”
Semua yang dianggap akan baik-baik saja, belum tentu akan baik-baik saja! Dan semua yang dianggap tidak akan terjadi apa-apa, juga belum tentu tidak akan terjadi apa-apa!
“Mengapa?”
Karena hal itu berkaitan dengan pengurapan dan pemakaian-Nya. Dan semua yang berkaitan dengan pengurapan dan pemakaian-Nya, merupakan urusan TUHAN.
—o0o—
Sekarang ini ada beberapa hamba TUHAN yang hidup seperti Simson, yang mempunyai prinsip ‘tidak ada yang tahu’ dan ‘tidak akan terjadi apa-apa.”
Mereka beranggapan tidak akan merusak pengurapan dan tidak akan berpengaruh pada pemakaian-Nya.
Hal itu salah! Bahkan salah besar!
Dan itu ‘seperti ular yang menggigit ekornya sendiri’, kebodohan yang berujung kepada kehancuran.
Baik Simson maupun ‘Simson-Simson akhir zaman’ yang melakukan kebodohan itu akan mengalami kehancuran, sekalipun telah berusaha menutup-nutupi sebaik mungkin.
Hal yang harus diingat, kebodohan itu suka kumat!
“KESALAHAN MEREKA TIDAK MENGHARGAI KEHADIRAN-KU DAN MEREKA TIDAK MENYADARI BAHWA AKU TELAH MENINGGALKAN MEREKA!”
Kita tahu akhir kisah Simson yang liar itu.
Karena ia main-main dengan dosa, maka rambut kenazirannya dipotong habis, matanya dicungkil, tangannya dibelenggu dan pekerjaannya menggiling.
—o0o—
Suatu hari, selesai berdoa, saya mendengar TUHAN berkata, “Begitu banyak kondisi gereja-Ku seperti Simson yang terikat, tanpa mata yang bisa melihat visi-Ku, dan pekerjaan mereka adalah rutinitas belaka! Kesalahan mereka tidak menghargai kehadiran-Ku dan mereka tidak menyadari bahwa Aku telah meninggalkan mereka!”
Sebuah kengerian yang dinyatakan TUHAN, “Begitu banyak kondisi gereja-Ku seperti Simson.”
Hal ini pasti menyakiti hati-Nya, dan Anda bisa menebak kondisi gereja yang tidak ada kasih, tidak ada kuasa, dan tidak ada penyembahan yang berkenan di hati-Nya. Tetapi yang ada hanya formalitas agamawi yang sudah mulai membusuk, kering karena kehilangan kehidupan, hambar, basa-basi dalam persekutuan tanpa hubungan dan hubungan tanpa persekutuan. Penuh gosip dan pertengkaran, penuh dengan penghakiman sebab tanpa kasih, kebenaran disampaikan dengan hati yang salah, dan tanpa kehadiran TUHAN yang mengubah hati dan hidup umat-Nya.
Michael L. Brown dalam bukunya yang berjudul, ‘Apa yang terjadi dengan kuasa TUHAN’, menuliskan hal yang serius kepada kita.
“Banyak dari gereja-gereja kita sedang menyembah TUHAN yang tidak hadir” (Leonard Ravenhill).
Mengapa menyembah TUHAN yang tidak hadir?
Karena banyak ketidaktaatan dan kenajisan, banyak kedagingan dan korupsi, sehingga kita tersingkir dari hadirat TUHAN.
Adalah mungkin bagi orang percaya untuk terus berdoa, memiliki ibadah keluarga, bersaksi, menyanyi di paduan suara, membayar perpuluhan dan menghadiri kebaktian-kebaktian, dan tidak tahu bahwa Roh TUHAN telah menjauh.
Kita telah menjadi terbiasa dengan kedangkalan sehingga kita hampir selalu kehilangan perkara-perkara adikodrati.
Kita cenderung hidup di ujung-ujung Roh (Spirit-frilled) daripada hidup dengan Roh (Spirit-filled). Kita terbiasa dengan “ujung-ujung jalan-Nya” (Ayub 26:14) sehingga kita sering lupa inti dari jalan-jalan-Nya.
Di hari-hari terakhir ini, TUHAN sedang memisahkan hamba-hamba TUHAN yang liar dengan hamba-hamba TUHAN yang terus mengerjakan kehendak-Nya.
Artikel ini diambil dari buku ‘JANGAN PADAM PELITAMU!’. ***
