62. ORANG YANG MEMBUTUHKAN ANUGERAH DAN ORANG YANG TIDAK MEMBUTUHKAN ANUGERAH

PERUMPAMAAN TENTANG ORANG FARISI DAN PEMUNGUT CUKAI

Buku melebihi batas

Dari perumpamaan ini, kita melihat perbedaan antara orang yang membutuhkan anugerah dan orang yang tidak membutuhkan anugerah.

Semua itu terlihat dari sikap hatinya.

—o0o—

Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya sendiri orang benar, dan memandang rendah orang-orang lain, Dia mengatakan perumpamaan ini, (Lukas 19:9, IMB)

Ayat itu menjelaskan tentang orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah orang lain.

PERUMPAMAAN ITU DIMULAI DENGAN ORANG FARISI

Ada dua orang pergi ke Bait Suci untuk berdoa, yang satu orang Farisi dan yang lain seorang pemungut cukai.

Orang Farisi itu berdiri dan berdoa: Ya Elohim, aku bersyukur kepada-Mu, karena aku tidak seperti orang-orang lain yang serakah, tidak jujur, pezina, atau seperti pemungut cukai ini. Aku berpuasa dua kali dalam seminggu, aku memberikan persepuluhan dari semua yang aku hasilkan. (Lukas 18:10-11, IMB)

Sebelum membahas lebih jauh, saya ingin mengajak Anda untuk membayangkan kalau di ruang Bait Suci itu ada 2 orang.

Yang seorang berdiri di depan dengan wajah dan tangan terangkat ke atas sementara yang seorang lagi tidak berani menengadah, tidak berani melangkah jauh, paling hanya selangkah dari pintu masuk, dan itu pun dengan badan membungkuk.

Yang berdiri di depan itu adalah seorang Farisi dan yang di belakangnya adalah seorang pemungut cukai.

Orang Farisi itu berdiri di depan dengan penuh percaya diri (dan membenarkan diri), sambil mengucapkan doa ini, “Ya Elohim, aku bersyukur kepada-Mu, karena aku tidak seperti orang-orang lain yang serakah, tidak jujur, pezina atau seperti pemungut cukai ini,” dengan dibarengi mata yang melirik ke belakang sedikit, lalu mengarahkan mata ke atas lagi.

Kita mengerti apa maksud si orang Farisi ketika melirik ke belakang sedikit.

—o0o—

Apa yang orang Farisi itu tonjolkan?

Ia mengukur dari besar kecilnya dosa atau dari banyak sedikitnya dosa.

Lalu ia membandingkan dirinya yang merasa lebih baik dari orang yang lebih besar dosanya.

—o0o—

Ada orang yang suka membanding-bandingkan dosanya dengan dosa orang lain. Ketika dianggapnya dosa orang lain itu lebih besar, maka ia akan membicarakannya dan membuat seluruh jemaat tahu dosa orang itu. Tujuannya untuk mengecilkan dosa, pelanggaran dan kesalahan dirinya.

—o0o—

Lalu kita lihat apa yang dilakukan orang Farisi itu setelah ia mengukur dari besar kecilnya dosa.

Aku berpuasa dua kali dalam seminggu, aku memberikan persepuluhan dari semua yang aku hasilkan.

Apa yang ia tonjolkan?

Lebih tepatnya ia memamerkan sesuatu.

Apa yang ia pamerkan kepada TUHAN?

Ia memamerkan apa yang ia lakukan kepada TUHAN.

Seolah-olah ia berkata, “Bukankah aku lebih baik dibandingkan dengan si pemungut cukai itu, tetapi juga si pemungut cukai itu tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku.

APA YANG SALAH DENGAN ORANG FARISI ITU?

Orang Farisi itu tidak membutuhkan anugerah, karena ia melihat dari sisi besar kecilnya dosa, dan dari aktivitas yang ia lakukan kepada TUHAN.

Karena itu, orang-orang seperti orang Farisi ini juga akan mengukur orang lain dari besar kecilnya dosa dan dari aktivitas pelayanan.

ANUGERAH ITU UNTUK ORANG YANG TIDAK LAYAK MENERIMANYA

Lihat si pemungut cukai yang di belakang.

Tidak punya kata-kata seperti orang Farisi, karena hatinya telah dipenuhi rasa bersalah.

Tidak mampu mengangkat tangan karena tangannya berlumuran dosa.

Tidak layak menengadahkan wajahnya ke atas, sebab ia tahu kalau ia adalah orang berdosa.

Karena itu, ia tidak berani melangkah selangkah pun dari pintu gerbang Bait Suci, karena ia tahu kalau ia tidak layak untuk mendapatkan belas kasihan dari TUHAN.

Lalu, apa yang ada padanya?

Tidak ada sedikitpun.

Dari sisi mana pun, tidak ada.

Dosanya jauh lebih besar dari si orang Farisi, dan tidak ada yang ia lakukan kepada TUHAN seperti yang dilakukan si orang Farisi.

Lalu apa yang dilakukan si pemungut cukai itu?

Tetapi pemungut cukai itu berdiri dari jauh, ia tidak berani memandang ke langit, sebaliknya ia memukul-mukul dadanya sambil berkata, Ya, Elohim, berikanlah belas kasihan-Mu kepadaku, orang berdosa ini. (Lukas 18:13, IMB)

PERUMPAMAAN INI MENGISAHKAN ORANG YANG MEMBUTUHKAN ANUGERAH DAN ORANG YANG TIDAK MEMBUTUHKAN ANUGERAH

Anugerah tidak berbicara tentang besar kecilnya dosa atau banyak sedikitnya dosa.

Anugerah juga tidak berbicara tentang aktivitas yang kita lakukan kepada-Nya.

Lalu tentang apa?

Anugerah itu berbicara tentang apa yang TUHAN lakukan kepada kita.

Apa yang TUHAN lakukan kepada kita?

Karya salib Yesus adalah bukti anugerah yang dicurahkan kepada kita.

Dari kayu salib itu, hukuman atas pelanggaran kita tertumpah kepada Yesus.

Dan karena kasih-Nya kepada kita, Anak-Nya yang Tunggal diserahkan sebagai pengganti kita.

Saya tidak bisa membayangkan kalau Yesus tidak melakukan pertukaran di kayu salib itu, berarti sia-sialah hidup kita.

Apapun yang kita lakukan, tidak akan menyelamatkan kita dari hukuman kekal.

TENTANG ANUGERAH

Anugerah itu berasal dari TUHAN.

Artinya, anugerah itu adalah porsi TUHAN, dan hanya TUHAN saja yang bisa melakukannya.

Dalam Perjanjian Lama, hal yang ditonjolkan adalah usaha manusia untuk melaksanakan hukum, namun pada kenyataannya tidak seorang pun yang sanggup melakukan dengan benar.

Berbeda dengan Perjanjian Baru, atau yang disebut perjanjian anugerah, yang berisi anugerah yang diberikan TUHAN kepada kita melalui salib.

Karena itu, di dalam anugerah terkandung belas kasihan, pengampunan dan penerimaan.

Artinya, anugerah itu bukan tentang siapa yang lebih baik dibandingkan dengan orang yang dosanya banyak, bukan tentang usaha kita dan bukan tentang pencapaian kita, melainkan tentang apa yang TUHAN lakukan kepada kita.

Karena Yesus, orang yang tidak layak karena dosa mendapatkan anugerah.

Dan kita adalah orang berdosa yang membutuhkan anugerah akan menerima anugerah.

TENTANG KITA DAN TENTANG ANUGERAH

Sekarang tentang kita.

Semakin kita menyadari kalau kita membutuhkan anugerah, maka pengertian kita tentang anugerah akan semakin bertambah.

Ketika pengertian kita tentang anugerah semakin bertambah, maka kita pun akan menyadari betapa mengerikannya efek dosa dalam hidup kita.

Ketika kita menyadari betapa mengerikannya efek dosa dalam hidup kita, maka kita akan semakin menyadari betapa berharganya anugerah itu.

—o0o—

Orang yang merasa lebih baik dari orang lain, merasa lebih benar dari orang lain, dan merasa lebih berkenan dari orang lain, tidak akan takjub akan anugerah-Nya.

Mengapa?

Karena mereka belum benar-benar mengerti tentang dosanya, sehingga mereka tidak benar-benar membutuhkan anugerah dalam hidupnya. ***