61. KETIKA ANUGERAH TUHAN MENGENAI HIDUP KITA

Saya suka dengan judul bab ini.
Mengapa?
Karena hal ini berbicara tentang kehidupan di mana anugerah TUHAN turun atas hidup kita.
Buku melebihi batas
KISAH PEREMPUAN YANG TERTANGKAP BASAH BERZINAH
Kalau kita membaca kisah perempuan yang tertangkap basah berzinah (baca: Yohanes 8:1-11), maka kita akan mengerti kalau kisah itu tentang anugerah yang melebihi batas.
Perempuan itu tidak layak menerima anugerah, tetapi ia menerima anugerah. Dan melalui kisah ini, saya semakin menghargai betapa berharga anugerah-Nya.
—o0o—
Ketika fajar menyingsing, Dia datang kembali ke Bait Suci, dan semua orang datang kepada-Nya. Dia duduk, dan mengajar mereka. (Yohanes 8:2, IMB)
Kisah ini dimulai orang-orang yang menggerebek tempat perempuan itu.
Lalu mereka mengaraknya untuk menghukumnya.
Aku pasti mati!” rintih perempuan itu.
Rombongan itu terdiri dari ahli Taurat dan orang Farisi.
Ketika rombongan itu menuju ke pintu gerbang, mereka melihat Yesus, maka mereka berhenti sejenak.
Saya membayangkan salah seorang dari rombongan itu melirik kepada yang lain supaya perempuan itu dibawa kepada Yesus.
—o0o—
Wajah perempuan itu sudah babak belur, tidak karuan.
Air matanya telah merusak maskaranya sehingga tampak lelehan hitam di pipinya.
Hidungnya mengeluarkan darah, dan bibirnya berdarah, mungkin karena ada seseorang yang telah meninju dan menamparnya.
Rambutnya acak-acakan karena ada yang menjambaknya.
Dan pakaiannya ada yang robek karena ditarik paksa.
Terlihat perempuan itu telah putus asa, karena kematian telah didepan mata.
Ia pasti mati karena dihukum berdasarkan hukum Taurat, yang berarti ia akan dirajam sampai mati.
—o0o—
Apa tujuan ahli Taurat dan orang Farisi membawa perempuan itu kepada Yesus?
Untuk mencobai-Nya.
Atau lebih tepatnya, untuk menjebak-Nya.
Kalau jawaban Yesus salah, maka mereka mempunyai kesempatan untuk menyalahkan-Nya.
Namun mereka kecele, karena Yesus menjawab, dan jawaban-Nya yang telak membuat mereka tidak sanggup untuk bernafas.
Mereka melangkahkah kaki secara perlahan supaya tidak terdengar kalau mereka mengundurkan diri seorang demi seorang mulai dari yang paling tua.
Yang tertinggal masih muda-muda, dan mereka celingukan, sadar kalau yang tua-tua telah tidak ada di tempat, maka mereka pun mengambil langkah seribu, kabur dan menyembunyikan diri di gang-gang dekat lokasi Yesus berada.
Pertanyaannya, “Apa jawaban Yesus yang membuat mereka ngacir?
Siapa di antara kamu yang tidak berdosa, biarlah ia yang pertama melemparkan batu kepada wanita itu. (Yohanes 8:7, IMB)
Jawaban Yesus itu menyadarkan kondisi hidup mereka sendiri mengenai dosa mereka.
Itu jawaban yang menempelak hati mereka.
—o0o—
Setelah mendengar-Nya, tertempelaklah mereka oleh hati nuraninya, lalu satu per satu mereka pergi, mulai dari yang paling tua sampai yang terakhir, sehingga Yesus tinggal sendirian dengan wanita yang berdiri di tengah itu. (Yohanes 8:9, IMB)
Mereka tertemplak.
Mengapa mereka meninggalkan perempuan itu mulai dari yang paling tua?
Karena yang paling tua yang paling banyak dosanya.
—o0o—
Nah, setelah itu ada bagian yang paling menarik.
Apa?
Anugerah yang mengenai perempuan itu.
Ketika semua telah pergi Yesus berkata, “Hai wanita, di manakah orang-orang yang mendakwamu itu? Tidak adakah yang menghukum engkau?” (Yohanes 8:10, IMB)
Perempuan itu melihat ke sekelilingnya dan tidak seorang pun berada di dekatnya. Yang ada hanya Yesus dan dirinya saja.
SETELAH ITU, SESUATU YANG SANGAT MENYENTUH TERJADI
Ia menjawab, “Tak seorang pun, Tuan.” Maka Yesus berkata kepadanya, “Aku pun tidak menghukummu, engkau dapat pergi dan tidak berbuat dosa lagi.” (Yohanes 8:11, IMB)
Perkataan Yesus itu yang membuat saya tercelik, padahal saya telah menulis beberapa buku yang membahas tentang perempuan yang tertangkap basah berzinah ini.
Lihat saja, perempuan itu seharusnya mati karena hukuman, tetapi Yesus mengatakan hal yang tak terduga, “Aku pun tidak menghukummu.
Tidak ada pengampunan kalau dilihat dari hukum Taurat, dan dosanya itu akan membawanya kepada kematian, tetapi ia tidak mati karena anugerah-Nya yang membuatnya mempunyai kesempatan kedua.
Perempuan itu menerima anugerah-Nya dan ia hidup karena anugerah itu.
YANG DAHULU TIDAK BEROLEH KEMURAHAN, TETAPI SEKARANG TELAH MENERIMA KEMURAHAN
Kamu yang dahulu bukan umat, tetapi sekarang telah menjadi umat Elohim; yang dahulu tidak beroleh kemurahan, tetapi sekarang telah menerima kemurahan. (1 Petrus 2:10, IMB)
Ayat ini menjelaskan tentang kita.
Yang dahulu kita bukan umat-Nya, tetapi sekarang telah menjadi umat-Nya.
Yang dahulu kita seharusnya terhukum, tetapi karena anugerah-Nya, Yesus mengambil posisi kita sehingga Ia yang terhukum di kayu salib.
Yang dahulu kita terbuang, tetapi karena anugerah-Nya kita menjadi anak Bapa Surgawi karena Yesus, Sang Anugerah itu.
—o0o—
Itulah arti anugerah yang mengenai hidup kita.
Kalau dilihat dari hukum Taurat, tidak seorang yang tidak bersalah.
Karena tidak ada yang tanpa berbuat salah, dan tanpa pelanggaran.
Tetapi karena anugerah-Nya, kita beroleh kemurahan dan menjadi anak-anak-Nya. ***