52. BOBOT ATAU BOBOL

Di akhir buku ini, saya ingin membandingkan antara bobot dan bobol.
Setelah kita membaca bab demi bab yang membahas bobot, dan di bab terakhir, kita membahas bobol.

Bobot Rohani Stehe

Apa arti bobol?

Bobol artinya jebol, ambrol, rusak, hancur, bledos, dan pecah.

PERHATIKANLAH AKHIR HIDUP MEREKA

Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka. (Ibrani 13:7)

Penulis Ibrani menjelaskan kepada kita supaya kita mengingat pemimpin-pemimpin kita yang telah menginvestasikan kebenaran dan nilai-nilai Kerajaan Sorga.

Ada banyak hal yang ditanamkan baik secara langsung maupun tidak langsung.

Selain mengingat akan pemimpin-pemimpin kita yang telah menginvestasikan, hal penting lainnya adalah memperhatikan akhir hidup mereka dan mencontoh iman mereka.

Memperhatikan akhir hidup mereka dan mencontoh iman mereka merupakan hal penting.

Mengapa?

Karena hal itu berbicara tentang bagaimana seseorang mengakhiri hidupnya di hadapan TUHAN.

Ingatlah para pemimpinmu, mereka yang telah mengajarkan firman TUHAN kepadamu. Perhatikanlah hasil dari cara hidup mereka, dan contohlah iman mereka. (Ibrani 13:7, AYT)

Kita harus memperhatikan hasil dari cara hidup mereka dan contohlah iman mereka.

—o0o—

Ketika saya merenungkan Ibrani 13:7 ini, kita menemukan ada orang-orang yang cara hidupnya makin lama makin kuat.

Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion. (Mazmur 84:8)

Tetapi hal yang menyedihkan, ada orang yang waktu mudanya begitu memukau, begitu cemerlang, dan pemakaian TUHAN begitu nyata, namun di akhir hidupnya pudar, meredup, kusam dan padam.

Mengapa?

Karena bobol!

Mengapa bobol?

Karena membiarkan kondisi hati sehingga seperti sungai yang di Yerikho di zaman Elisa.

Berkatalah penduduk kota itu kepada Elisa: “Cobalah lihat! Letaknya kota ini baik, seperti tuanku lihat, tetapi airnya tidak baik dan di negeri ini sering ada keguguran bayi.”

Jawabnya: “Ambillah sebuah pinggan baru bagiku dan taruhlah garam ke dalamnya.” Maka mereka membawa pinggan itu kepadanya.

Kemudian pergilah ia ke mata air mereka dan melemparkan garam itu ke dalamnya serta berkata: “Beginilah firman TUHAN: Telah Kusehatkan air ini, maka tidak akan terjadi lagi olehnya kematian atau keguguran bayi.”

Demikianlah air itu menjadi sehat sampai hari ini sesuai dengan firman yang telah disampaikan Elisa. (2 Raja-raja 2:19-22)

Lihatlah kisah air yang di kota Yerikho itu. Airnya tidak baik dan menyebabkan keguguran bayi.

Perhatikan apa yang dilakukan oleh nabi Elisa.

Elisa tidak menyehatkan air itu di hilir atau di tengah sungai, tetapi ia pergi ke mata airnya, dan melemparkan garam dan menyampaikan firman.

Dan mata air itu menjadi sehat.

—o0o—

Hal yang sama terjadi pada kita sekarang ini, TUHAN ingin menyehatkan sungai hidup kita, dan Ia tidak menyehatkan di hilir atau di tengah sungai, melainkan Ia harus menyelesaikan yang ada di hulu hidup kita, yaitu hati kita.

TUHAN mau kita membersihkan dan membereskan hulu kehidupan kita.

Ketika sungai hidup kita tidak baik airnya dan menyebabkan keguguran, maka hal itu menunjukkan kondisi hati kita bermasalah.

Kondisi hati yang bermasalah sangat mempengaruhi pekerjaan Roh-Nya, sehingga yang tadinya cemerlang, mulai meredup, lalu pudar kecemerlangannya dan akhirnya padam. Setelah padam, maka hidupnya menjadi kusam dan kumuh.

SUNGAI YANG KELUAR DARI BAIT SUCI

Satu lagi, tentang sungai yang keluar dari Bait Suci (baca: Yehezkiel 47), kita tahu ada air keluar dari bawah ambang pintu Bait Suci itu dan mengalir menuju timur.

Air itu membual dan mengalir, lalu diukur dalam jarak 1.000 hasta, dalamnya sampai ke pergelangan kaki (ayat 3), lalu diukur kedua kalinya, air itu dalamnya sudah sampai di lutut, kemudian diukur ketiga kalinya dalamnya sudah sampai di pinggang (ayat 4), dan diukur keempat kalinya dalamnya sudah menjadi sungai yang tidak dapat diseberangi lagi (ayat 5).

Hal ini berbicara tentang kedalaman.

—o0o—

Lalu berbicara tentang orang-orang yang akhir hidupnya meredup, hal itu menunjukkan bukan berbicara kedalaman, melainkan menjadi dangkal.

Ketika sungai hidup kita menjadi dangkal, itu berarti dari yang dalam menjadi dangkal.

Hal ini berarti tentang orang yang dulunya dipakai TUHAN dalam kegerakan-Nya, sekarang mereka tidak lagi berada dalam arena pemakaian-Nya.

Tersingkir.

Kehilangan pemakaian-Nya.

Kehilangan kecemerlangannya.

Dan redup.

—o0o—

Yang tadinya mengalami perjalanan iman, perjalanan pewahyuan, dan perjalanan yang menggairahkan.

Semua itu tidak lagi terjadi.

Tidak ada lagi perjalanan iman, karena terjadi kemandekan.

Tidak ada lagi perjalanan pewahyuan, karena terjadi kehambaran.

Dan tidak ada lagi perjalanan yang menggairahkan, karena terjadi penurunan.

Akhirnya, semua yang dibangun sejak muda menjadi pudar, dan semua yang dipertahankan sejak muda menjadi kusam.

—o0o—

Di akhir buku ini, saya ingin membagikan kerinduan saya untuk memiliki akhir hidup seperti yang dituliskan Mazmur 84:8. Saya merindukan TUHAN menuliskan tentang hidup saya, “Stephanus Herry berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion”.

Saya juga rindu supaya Anda pun mempunyai kerinduan yang sama dengan saya, sehingga TUHAN menuliskan tentang hidup Anda seperti yang dituliskan Mazmur 84:8.

Biarlah banyak orang yang melihat akhir hidup kita sebagai orang yang semakin cemerlang, tidak pudar, tidak kusam, dan tidak kumuh sampai kita menghembuskan napas terakhir kita.

Dan biarlah banyak orang dikuatkan dan diteguhkan melalui hidup dan matinya kita. ***