46. MUSUH BESAR KESUNGGUHAN HATI

Jangan menjadi sisa dihadapanku

Sejujurnya, kita dapat melakukan pelayanan tanpa kesungguhan hati.

Penampilan kita bisa ditutupi, dipoles, dan disepuh sedemikian sempurna, tetapi masalahnya nilai pelayanan tanpa kesungguhan hati tidak diperhitungkan TUHAN.

Di hari-hari yang menentukan ini, kepura-puraan telah menjalar ke dalam gereja-Nya.

Mengapa?

Karena fakta yang tidak bisa ditutup-tutupi, banyak umat TUHAN yang menghidupi kehidupan yang dicampur dengan kepura-puraan.

—o0o—

Banyak pemimpin pelayanan yang menjalani kehidupan yang sempurna di panggung gereja, tetapi tidak ditemukan kesungguhan hati di hadapan TUHAN.

Mengapa?

Karena banyak yang berpura-pura, banyak yang menonjolkan penampilan luar, banyak yang memoles kehidupan imitasi, dan banyak yang bermunafik-ria sehingga penampilan pelayanan kita tampak keren di hadapan manusia, tetapi tidak di hadapan TUHAN.

Setiap kepura-puraan, suatu hari kelak akan terbentur kepada kenyataan yang menunjukkan bahwa kepuraan-puraan itu hanyalah sekam, tanpa kehidupan, dan hal itu berarti kesia-siaan belaka.

SAAT INI ADALAH SAAT TUHAN MEMULIHKAN GEREJA-NYA

Saat ini adalah saat bagi TUHAN untuk memulihkan gereja-Nya!

Saat bagi TUHAN untuk menyembuhkan gereja-Nya!

Saat bagi TUHAN untuk mentahirkan gereja-Nya!

Dan saat bagi TUHAN untuk membangkitkan gereja-Nya supaya bergerak sesuai dengan cara-Nya, sesuai dengan agenda-Nya, dan sesuai dengan keterdesakan hati-Nya.

Bagian penting yang harus menjadi prioritas hati kita adalah tidak lagi mengutamakan hal-hal yang tidak esensi, yang hanya menonjolkan performance di panggung gereja, tetapi mengejar apa yang menjadi perhatian-Nya, dan bergerak dalam kesungguhan hati di hadapan-Nya.

KESALAHAN YANG SERING KITA LAKUKAN ADALAH BERUSAHA MENGGANTI KESUNGGUHAN HATI DENGAN HAL-HAL YANG TIDAK MENGANDUNG KESUNGGUHAN HATI

Kita kembali kepada perkataan TUHAN, “Aku tidak pernah menggantikan unsur-unsur kesungguhan hati dengan apa pun!”

Apa artinya?

Artinya, apa pun pelayanan yang kita lakukan, harusnya mempunyai ‘nyawa’ kesungguhan hati.

Apa pun pelayanan yang kita lakukan, harusnya mengandung unsur-unsur kesungguhan hati.

Apa pun pelayanan yang kita lakukan, bila tanpa kesungguhan hati tidak mempunyai nilai kekal di mata TUHAN.

Sebenarnya kalau kita kehilangan kesungguhan hati, maka pelayanan yang kita lakukan menjadi tumpul, tidak ada kehidupan yang mengubah kehidupan banyak orang lagi, dan pelayanan itu akan redup, beku, hambar, akhirnya menjadi pelayanan yang mati.

Berhati-hatilah, kalau kita kehilangan kesungguhan hati, karena kecenderungan kita akan menggantinya dengan hal-hal yang tidak mengandung kesungguhan hati.

Apa itu?

Hal-hal yang berkaitan dengan kesuksesan pelayanan – mengukur dari hal-hal fisik dan materi, juga menonjolkan jumlah jemaat yang dilayani.

—o0o—

Berhati-hatilah, kalau kita menonjolkan serba panggung dan serba mimbar.

Apakah pelayanan itu serba panggung dan serba mimbar?

Tidak.

Ada banyak pelayanan yang tidak berkaitan dengan serba panggung dan serba mimbar, tetapi sekarang ini banyak pemimpin pelayanan yang menonjolkan serba panggung dan serba mimbar maka muncul pengertian yang dangkal di antara jemaat.

Apa itu?

Pengertian yang dangkal di antara jemaat bahwa kesuksesan acara panggung dengan segala asesorisnya sebagai ukuran perkenanan TUHAN terhadap pelayanan itu.

Karena banyak yang mengutamakan serba panggung dan serba mimbar, maka kecenderungan orang-orang panggung berusaha menampilkan dan memamerkan skill panggung mereka sekalipun mereka tidak membangun kehidupan mezbah.

Kalau mereka tidak membangun kehidupan mezbah, lalu apa yang mereka lakukan di panggung?

Kecenderungan orang-orang panggung ini akan memunculkan kesungguhan hati palsu, penyembahan palsu, dan semua yang palsu-palsu supaya dilihat orang banyak sebagai orang-orang yang bersungguh hati dan membangun kehidupan dengan penyembahan.

Semua yang palsu-palsu tidak mengubah hati banyak orang sebab yang palsu-palsu itu hanyalah gabah saja.

Gabah itu tampaknya seperti gandum, tetapi tidak ada isinya dan tidak mempunyai kehidupan.

Semua yang palsu-palsu itu penuh kepura-puraan.

Perhatikan baik-baik kebenaran yang pedas ini!

Saudara kandung dari kepura-puraan adalah kemunafikan.

JEMAAT SARDIS YANG MENYEDIHKAN!

Tanpa kesungguhan hati, gereja yang Anda layani akan terperosok dalam kesalahan seperti yang dilakukan oleh jemaat di Sardis.

“Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati!” (Wahyu 3:1b).

Perhatikan perkataan TUHAN terhadap jemaat Sardis itu.

Kita lihat dari beberapa terjemahan.

“Aku tahu segala perbuatanmu, engkau terkenal dan hidup, padahal engkau mati.” (Wahyu 3:1b, IMB)

“Aku tahu cara hidup kalian masing-masing. Kamu terkenal sebagai pengikut-Ku yang setia dan rajin, tetapi sebenarnya secara rohani kamu hampir mati.” (Wahyu 3:1b, TSI)

“Aku tahu kalian dikenal sebagai jemaat yang hidup dan giat, tetapi sebenarnya kalian mati.” (Wahyu 3:1b, FAYH)

Ketika kita membaca terjemahan-terjemahan ini maka kita melihat perbedaan yang menyolok antara yang dilihat manusia dengan yang dilihat TUHAN.

Apa yang dilihat manusia tentang jemaat Sardis?

Jemaat Sardis adalah jemaat yang terkenal sebagai pengikut Kristus yang setia, rajin, dan giat.

Tetapi di mata TUHAN, jemaat Sardis adalah jemaat yang mati.

Mengapa?

Karena jemaat itu tidak memenuhi standar TUHAN, sekalipun memenuhi standar kesuksesan di mata banyak orang.

Jemaat Sardis itu adalah jemaat yang tidak mempunyai kualitas!

Karena TUHAN menemukan jemaat Sardis adalah jemaat yang mati.

Hal ini sungguh menyedihkan!

—o0o—

Selain kondisi rohani yang mati, TUHAN juga menemukan jemaat Sardis yang tidak satupun dari pekerjaan jemaat itu sempurna di hadapan-Nya.

“tidak satu pun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku.” (Wahyu 3:2b)

Hal ini penting!

Mengapa?

Karena hal ini merupakan peringatan serius bagi para pemimpin pelayanan.

Tiap-tiap pemimpin pelayanan harus konsentrasi kepada apa yang dituntut TUHAN terhadap pelayanan yang mereka pimpin.

Apa yang TUHAN tuntut dalam tiap-tiap pelayanan?

Dalam Wahyu 3:2b dituliskan,tidak satu pun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku.

Tiap-tiap pemimpin pelayanan harus fokus kepada kualitas pelayanan yang TUHAN cari!

TUHAN mencari dan menuntut pekerjaan yang sempurna di hadapan-Nya, tetapi tanpa kesungguhan hati, tidak ada pekerjaan yang dihasilkan dengan sempurna.

Hanya melalui kesungguhan hati dari semua jajaran pemimpin pelayanan seperti pahlawan triwira Daud, maka kemuliaan TUHAN akan dinyatakan, dan pelayanan itu akan mengalami ekspansi TUHAN, sebab TUHAN menemukan orang-orang yang dipercayai-Nya!

Artikel ini diambil dari buku ‘JANGAN MENJADI SISA DI HADAPAN-KU!’. ***