45. KEBEBASAN KITA TERGANTUNG PADA PILIHAN UNTUK MENGAMPUNI

Kita tahu setiap orang mempunyai luka masing-masing di dalam hati mereka, tetapi yang menjadi pembeda di antara orang-orang yang terluka ini adalah pilihan mereka.
Ada yang memilih menjadi tawanan luka selamanya dan ada yang memilih untuk mengalami kebebasan.
Orang yang hidup menjadi tawanan luka karena mereka membiarkan rasa sakitnya menguasai hatinya sehingga hatinya mengeras dan menghitam. Hati yang mengeras dan menghitam itu memiliki kecenderungan untuk hancur, tetapi hati yang lembut tidak mudah hancur.
Tetapi orang yang memilih untuk mengalami kebebasan karena pilihannya untuk mengampuni.
LANGKAH-LANGKAH MENGALAMI PEMULIHAN DAN KESEMBUHAN
Pengampunan itu bukanlah proses yang mudah, karena pengampunan merupakan proses yang bertahap.
—o0o—
Marilah kita mencari TUHAN dalam doa supaya TUHAN menyingkapkan dan menyembuhkan luka, dan supaya TUHAN menyatakan kegagalan dan kesalahan tersembunyi kita.
Dalam buku ini, saya ingin menuliskan langkah-langkah mengalami pemulihan dan kesembuhan.
Langkah pertama, membuat keputusan.
Langkah pertama ini penting.
“Mengapa?”
Karena membelokkan arah hati kita kepada kebenaran.
Tentunya kebenaran tentang luka.
Ketika kita mengalami kebenaran tentang luka, maka kebenaran itu akan menuntun kita setahap demi setahap supaya kita terlepas dari cengkeraman rasa sakit dari peristiwa-peristiwa yang menyakitkan dan menyedihkan.
Kebenaran itu akan mengarahkan hati kita kepada terang-Nya, ketika kita mengalami terang-Nya maka mata roh kita bisa melihat hidup kita yang telah diampuni dari dosa-dosa kita yang banyak itu, dan kebenaran itu akan memimpin kita untuk membuat keputusan penting dalam hati kita.
Keputusan itu penting.
Karena keputusan itu merupakan langkah kecil yang akan berdampak besar dalam hidup kita.
“Mengapa?”
Karena mengampuni itu dimulai dari keputusan untuk mengampuni.
Dan yang harus Anda pahami adalah TUHAN tidak meminta kita mengampuni sendirian, tetapi yang TUHAN minta adalah kita membuat keputusan mengampuni sebagai langkah yang mengubah hati dan hidup Anda.
—o0o—
Langkah kedua, berusaha hidup damai.
Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.
Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang. (Ibrani 12:14-15)
Ayat di atas menjelaskan kepada kita supaya kita berusaha hidup damai dengan setiap orang. Dan orang yang berusaha hidup damai dengan semua orang itu berkaitan erat dengan mengejar kekudusan.
“Mengapa?”
Karena adanya konflik yang menumbuhkan kebencian.
Yang lebih mengerikan ketika kebencian bersatu dengan penyesalan, maka hal itu membuat kita tidak dapat mengalami-Nya.
“Mengapa?”
Karena hal itu menunjukkan kalau kita tidak dapat mengatasi peristiwa-peristiwa yang menyakitkan dan menyedihkan yang menerpa hidup kita.
Akibatnya akan muncul akar pahit.
Dan orang yang mempunyai akar pahit adalah orang yang membiarkan hidupnya digerogoti oleh rasa sakit dan lambat laun akan menjadi perusuh yang mencemarkan kerohanian banyak orang.
—o0o—
Langkah ketiga, mencari akar kepahitan dalam hati kita.
Hal penting dalam hidup ini adalah mencari akar kepahitan dalam hati kita.
“Mengapa?”
Karena dengan mencari akar kepahitan itu dimulai dengan mencari akar konflik di dalam hati kita.
“Bagaimana caranya mencari akar konflik dalam hati kita?”
Kalau ada orang yang melukai kita, sebenarnya ia tidak sedang melukai kita.
“Mengapa?”
Karena luka itu telah ada di dalam hati kita, dan orang yang melukai kita itu sebenarnya sedang menunjukkan keberadaan luka yang tidak kita sadari.
Ketika kita menyadari ada luka di dalam hati kita, kita tidak boleh fokus kepada siapa yang telah melukai kita, tetapi fokus kepada luka itu supaya kita memilih untuk mengalami pemulihan dan kesembuhan.
Apalagi kalau ada beberapa orang yang melukai di titik luka yang sama, hal itu menunjukkan titik luka yang akan digarap TUHAN kalau kita menyerahkan titik luka itu kepada-Nya, bukan menyerang orang yang melukai hati kita tetapi bersyukur kepada TUHAN karena mereka dipakai-Nya supaya kita mengenali titik luka yang menjadi akar konflik dalam hati kita.
—o0o—
Langkah keempat, bertobat dari segala amarah dan kebencian yang kita simpan terhadap orang lain.
Untuk mengalami pemulihan dan kesembuhan, kita harus bertobat dari segala amarah dan kebencian yang kita simpan terhadap orang lain.
Kita tidak sedang membuat perhitungan terhadap hal-hal yang menyakitkan yang diperbuat orang lain terhadap kita, atau rasa sakit yang kita rasakan akibat perlakuan orang lain terhadap kita. Tetapi kita harus bertobat karena menyimpan rasa sakit sehingga tidak mengampuni mereka.
Setiap kali kita memendam ketidaksediaan untuk mengampuni maka luka dan kepahitan akan semakin menyakiti kita.
“Apa yang harus kita lakukan?”
Kita harus bertobat sebagai tanggapan kita terhadap dosa yang dilakukan orang lain terhadap kita.
—o0o—
Kepahitan adalah hasil dari ketidaksediaan kita untuk mengampuni dan hal ini seringkali sukar dihadapi karena kita telah percaya kalau kita mempunyai hak untuk menyimpan kepahitan itu.
Biasanya orang yang menyimpan kepahitan akan mengerami kepahitan, tetapi hal yang tidak pernah kita sadari akibat kita mengerami kepahitan itu.
“Apa?”
Ketika kepahitan itu menetas dalam hati kita, seperti telur ular yang menetas sehingga memunculkan banyak ular kecil dan akan memperparah kondisi hati kita.
—o0o—
Terluka karena orang lain adalah satu hal, tetapi membiarkan luka itu berkembang menjadi kepahitan merupakan hal yang berbeda.
Sering kali kepahitan itu memanifestasikan dirinya dengan mengeluarkan kemarahan yang kita lontarkan kepada orang lain atau diri sendiri. Dan kemarahan itu seperti api yang menyalakan api tungku kebencian.
—o0o—
Hal yang tidak pernah disadari, kita memiliki kemarahan terhadap TUHAN.
Biasanya kepahitan terhadap TUHAN tidak terkait dengan hal yang telah Dia lakukan terhadap kita, tetapi kepahitan tersebut terkait karena kesalahpahaman atau persepsi kita yang keliru terhadap-Nya.
Artikel ini diambil dari buku ‘PENUH BALUTAN PERBAN’. ***
