43. MUSUH YANG MENGGEROGOTI

Buku Penuh Balutan Perban

TUHAN MENARUHKAN PERKATAAN-NYA DALAM HATI SAYA

Suatu hari ketika saya menyiapkan diri untuk melayani, TUHAN menaruhkan perkataan-Nya di dalam hati saya, “Musuh yang menggerogoti.”

Apa arti ‘musuh yang menggerogoti’?

Yaitu musuh yang berada di dalam hidup kita, tetapi kita tidak menyadarinya.

Musuh ini masuk menyelinap ke dalam hati kita, dan diam-diam merusak dari dalam.

Akibatnya kita seperti pohon yang tumbang karena rapuh.

Dan kalau kita melihat pohon yang tumbang, lalu kita mengangkat pohon itu, maka kita akan menemukan ada banyak serangga di bawahnya.

Demikian pula, kalau hidup seseorang tumbang, maka sebenarnya ada banyak masalah di dalamnya yang telah menjadi sarang musuh.

—o0o—

Mengapa musuh masuk tanpa kita sadari?

Karena musuh mempunyai pintu masuk dalam hati kita, yaitu melalui luka yang belum sembuh.

Setiap luka yang belum sembuh itu adalah area yang termiskin atau area yang terkumuh dalam kehidupan kita.

Juga bisa disebut sebagai area terlemah.

Dari area itulah pintu masuk iblis dalam kehidupan kita sehingga kita mengalami kekalahan demi kekalahan.

Karena iblis menggerogoti dari dalam.

Dan di area itu, sesungguhnya kita membutuhkan anugerah dan jamahan TUHAN supaya tidak lagi menjadi area termiskin dalam kehidupan kita.

LUKA-LUKA ITU HIDUP

Luka-luka itu diam-diam bergerak.

Mengapa?

Karena luka itu hidup.

Mengapa luka itu hidup?

Karena luka-luka itu seperti benih.

Benih itu mempunyai kehidupan, ia terus bergerak sekalipun perlahan, seperti akar merambat dan membelit.

Dan benih itu mempunyai kekuatan yang sangat besar ketika bertumbuh subur.

LUKA ITU SEPERTI BENIH YANG JATUH DI ANTARA CELAH-CELAH BATU ATAU RETAKAN TEMBOK

Luka itu juga seperti benih yang jatuh di antara celah-celah batu atau retakan tembok.

Benih itu masuk ke dalam ruang yang sempit, tetapi benih itu bertunas dan bertumbuh.

Sekalipun tanpa pupuk, benih itu tumbuh subur.

Tanpa dipupuk saja bertumbuh subur, apalagi kalau kita memupukinya. Pastilah benih itu berubah menjadi tanaman yang cepat bertumbuh.

Karena itu, tidak mengherankan kalau benih luka itu bertumbuh dari kekecewaan kecil berubah menjadi kebencian, lalu berubah lagi menjadi kemarahan dan akhirnya menjadi kepahitan.

KEPAHITAN ITU DIMULAI DARI BENIH KEKECEWAAN KECIL

Kekecewaan itu kelihatannya kecil.

Karena dianggap kecilnya, kebanyakan orang menyepelekannya.

Tetapi yang tidak pernah diduga oleh kita, kekecewaan itu berbahaya.

Mengapa?

Karena kekecewaan itu sanggup mengubah hati kita dari orang yang baik menjadi orang yang hambar, dari orang yang hambar menjadi orang yang tidak peduli kepada hal-hal ilahi, dari orang yang tidak peduli kepada hal-hal ilahi menjadi orang yang berhenti mengalami TUHAN.

Dari kekecewaan yang kecil itu, berubah menjadi masalah yang serius.

Dan ketika masalah telah serius, maka hal itu akan mengubah arah kehidupan kita sehingga tahun-tahun hidup kita dipenuhi kepahitan.

KETIKA BENIH KEPAHITAN BERTUMBUH DALAM HATI KITA

Setiap benih kepahitan yang bertumbuh akan membawa karakter buruk dalam hati kita.

Benih itu akan menjalar sehingga orang yang kepahitan seperti dibelit oleh akar hitam dan hidupnya akan dibungkus oleh semak belukar.

Ujungnya orang yang kepahitan seperti orang yang masuk ke dalam lumpur hisap.

Satu-satunya yang menyelamatkan kita dari kepahitan hanyalah kasih karunia TUHAN terhadap luka-luka kita.

Tidak ada yang sanggup melepaskan diri dari kepahitan kecuali kasih karunia TUHAN yang mendorong kita untuk melepaskan pengampunan maka jeratan kepahitan pun terlepas.

Artikel ini diambil dari buku ‘PENUH BALUTAN PERBAN’. ***