42. KARENA ADA YANG ‘MATI’ SEKALIPUN KITA MASIH HIDUP

Buku Penuh Balutan Perban

Judul bab ini terasa aneh.

Mengapa?

Karena fakta yang banyak kita temukan memang ada orang-orang yang telah ‘mati’ sebelum mereka mati.

Minimal ada yang ‘mati’ beberapa bagian di hatinya.

Tentunya dimulai dengan ada yang hilang terlebih dahulu, lalu lambat laun mulai mengering, berguguran dan akhirnya mati.

Dengan perkataan lain, ada orang-orang yang ‘mati’ sekalipun mereka masih hidup.

Mengapa hal itu terjadi?

Karena hidup mereka seperti benih yang tumbuh di tengah-tengah onak duri, lalu tertusuk duri dan mati terhimpit.

Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. (Matius 13:7)

—o0o—

Yesus menjelaskan perumpamaan tentang benih yang jatuh di tengah-tengah semak duri.

Perhatikan baik-baik ayat itu.

Lalu besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. (Matius 13:7b)

Benih itu bertunas, benih onak duri pun bertunas.

Lalu benih yang telah bertunas itu bertumbuh, demikian pula benih onak duri yang telah bertunas itu pun bertumbuh.

Tetapi akhirnya berbeda.

Mengapa?

Benih yang telah bertunas dan bertumbuh itu mati karena terhimpit dan tertusuk duri.

Itu yang menyebabkan ada orang yang ‘mati’ sebelum mereka mati.

Mengapa?

Karena duri-duri itu menghimpit dan menusuk sehingga mati.

Dari ayat itu menggambarkan juga tentang orang-orang yang terluka karena tertusuk onak duri sehingga banyak luka atau penuh luka.

—o0o—

Luka-luka itu diperban.

Saking banyaknya luka, mau tak mau, banyak yang harus dibalut perban sehingga banyak balutan perban seperti mummy.

ADA ORANG YANG BERHENTI HIDUP KARENA LUKA

Ada orang yang berhenti hidup karena luka.

Mereka berhenti hidup dan berhenti bergerak sampai mereka benar-benar berhenti bernafas.

—o0o—

Ada orang yang tidak bisa melakukan banyak hal lagi di hadapan TUHAN karena luka.

Sebelumnya mereka adalah orang-orang yang mempunyai cinta yang bergelora kepada TUHAN dan mereka menyerahkan hidup mereka kepada-Nya.

Setelah mereka terluka, mereka mulai menarik diri lalu melepaskan semua pelayanan yang selama ini mereka perjuangkan, termasuk melepaskan penggilan TUHAN dalam hidup mereka.

Sebelumnya mereka adalah orang-orang yang mempunyai hati untuk melayani banyak orang.

Setelah mereka terluka, mereka menutup keran hati mereka dan tidak ada hati untuk melayani banyak orang lagi karena tidak ada kehidupan ilahi yang mengalir dari dalam hati mereka yang menghidupkan banyak orang.

Sebelumnya mereka adalah pejuang-pejuang rohani yang militan.

Setelah mereka terluka, mereka melepas baju zirah, menggantung perisai dan pedang mereka.

Mereka menjalani hidup sebagai ‘ronin’ (pasukan samurai tanpa tuan).

Saya melihat banyak ronin yang tersebar di berbagai gereja ketika saya melayani di sana.

Ronin-ronin ini seperti kapal tanpa arah di lautan.

Tidak ada tujuan.

Tidak ada kejelasan.

Mereka berusaha hidup seperti jemaat biasa, dengan cara ‘melepaskan’ tahun-tahun yang penuh didikan dan disiplin. Seolah-olah mereka adalah orang baru yang tidak tahu apa-apa dan tidak mempunyai pengalaman, padahal mereka adalah orang-orang yang terlatih dalam pelayanan.

Tapi karena sistem pelayanan, maka ronin-ronin ini hanya mengerjakan tugas-tugas pelayanan seperti orang baru.

Apa tugas pelayanan orang baru?

Ah, Anda pasti tahulah tugas orang baru apa, dan Anda juga pasti tahu tugas orang telah terlatih dan terdidik dalam pelayanan.

—o0o—

Lagi pula, ketika ronin-ronin ini mendengarkan khotbah-khotbah, mereka tidak pernah kenyang, karena khotbah-khotbah itu seperti chiki (makanan anak) sementara kebutuhan mereka bukanlah khotbah chiki. Tapi ya, mau tidak mau, mereka harus memakan chiki karena hanya menu itu saja yang ada. Menu lain berupa makanan keras untuk jemaat yang dewasa tidak ada.

Ya, ‘gereja chiki’ akan melahirkan ‘jemaat chiki’ juga.

—o0o—

Ada orang yang tidak bisa melangkahkan hati mereka untuk melakukan kehendak TUHAN lagi karena luka.

Semua yang dibangun, semua yang diperjuangkan, dan semua yang dieraminya terbengkalai karena luka.

Sekarang, orang-orang ini tidak lagi membangun, tidak lagi memperjuangkan, dan tidak lagi mengerami.

Lalu apa yang mereka lakukan sekarang?

Mereka seperti hamba yang menyembunyikan talentanya di dalam tanah.

Mereka pun mengubur hidup mereka dengan penuh balutan perban.

Juga mengubur panggilan TUHAN dalam timbunan puing-puing luka.

Mengapa?

Karena mereka tidak mau melakukan kehendak TUHAN dalam hidup mereka.

—o0o—

Ada banyak orang menjadi diam karena terbungkam oleh luka yang telah begitu parah di dalam hatinya.

Sekarang mereka tidak mampu lagi berbicara seperti sebelumnya, dan tidak bisa lagi menyampaikan pesan-pesan-Nya kepada banyak orang.

—o0o—

Sekalipun area kehidupan lainnya berkemenangan, tetapi di area-area yang terluka itu malahan banyak mengalami kekalahan karena kumuh, terbengkalai dan hancur berantakan.

Akibatnya, ada yang hidupnya seperti kapal yang tertambat di dermaga sepanjang waktu, ada hidupnya seperti pohon yang tumbang, dan ada hidupnya seperti gubuk reyot yang mudah ambruk.

Sungguh menyedihkan.

—o0o—

Mengapa hal itu terjadi?

Karena ada yang ‘mati’ sekalipun kita masih hidup.

Sekalipun orang lain melihat kita masih pelayanan. Yang berarti masih berada dalam pelayanan, dan masih mengerjakan pelayanan, tetapi yang ‘mati’ dalam hati itu membuat kita tidak bisa mengalirkan kehidupan kepada banyak orang.

—o0o—

Melihat hal itu, hati saya terdorong untuk menulis sebuah buku yang berisi sengatan atau seperti defibrillator (alat kejut jantung) yang biasa dokter lakukan kepada pasien yang tiba-tiba detak jantungnya berhenti.

Alat ini bekerja dengan cara mengirimkan kejutan listrik ke jantung agar jantung bisa bekerja lagi.

Semoga buku ini dipakai TUHAN memulihkan dan menyembuhkan umat-Nya yang penuh balutan perban.

Artikel ini diambil dari buku ‘PENUH BALUTAN PERBAN’. ***