41. KEKRISTENAN SEJATI ITU BUKAN TENTANG ACARA DAN PEMBICARA, TETAPI TENTANG TUHAN YANG BERACARA DAN BERBICARA DI DALAM KEHIDUPAN KITA

JANGAN SEPERTI KERUPUK

Di hari-hari terakhir ini, umat TUHAN yang mempercayai mitos pertumbuhan akan terkecoh.

Mengapa?

Karena banyak umat TUHAN yang berakar kepada acara dan pembicara, bukan kepada Kristus.

Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur. (Kolose 2:7)

—o0o—

Hal yang harus diperhatikan!

Jika Anda menggantungkan kerohanian Anda pada acara dan pembicara, maka hidup matinya kerohanian Anda tergantung pada acara-acara yang Anda hadiri dan kepada pembicara-pembicara yang menyuapi makanan rohani untuk Anda.

Kalau suatu hari tidak ada lagi acara, maka kerohanian Anda akan layu dan mati.

Dan kalau suatu hari tidak ada lagi pembicara, maka kerohanian Anda akan melempem.

—o0o—

Di hari-hari terakhir ini, seharusnya Anda tidak bergantung pada faktor eksternal!

Di saat-saat yang menentukan ini, seharusnya Anda membangun kehidupan akar rohanimu, dan tidak lagi bergantung pada acara-acara dan kepada pembicara-pembicara.

Anda harus mempunyai akar rohani yang hidup, yang mengejar kedalaman, dan yang menembus dimensi keintiman bersama-Nya.

Anda harus membangun kehidupan akar rohanimu!

Jangan mengandalkan penumpangan tangan yang mengurapi Anda oleh hamba TUHAN, karena pertumbuhan sejati bukan soal tumpang tangan dari hamba TUHAN melainkan Anda harus mempunyai akar rohani yang hidup.

Dan jangan mengandalkan diolesi minyak pengurapan oleh hamba TUHAN, karena pertumbuhan sejati bukan diolesi minyak pengurapan oleh hamba TUHAN melainkan Anda harus mempunyai kualitas akar yang mampu menembus dimensi keintiman bersama-Nya.

—o0o—

Hal pertama dan utama umat TUHAN yang membangun kehidupan akar rohani di hadapan-Nya adalah menyiapkan hati Anda supaya TUHAN beracara dan berbicara kepadamu.

Ketika Anda mengalami TUHAN beracara dan berbicara kepadamu, hal itu berarti TUHAN bergerak ke dalam hati dan hidupmu, dan ketika TUHAN bergerak ke dalam hati dan hidupmu maka TUHAN akan berurusan dengan ketidakbenaran dan ketidakberesan.

Ketika TUHAN berurusan dengan ketidakbenaran dan ketidakberesan dalam hati kita, maka TUHAN mau melakukan pembersihan dan pemberesan dari dalam hati kita.

Itu yang membuat kita mengalami perubahan dan akhirnya mengubahkan banyak kehidupan orang lain.

Tetapi jika Anda berada di tingkat hanya sekadar tahu saja, atau ‘jago teori’, namun tidak mengalami TUHAN beracara dan berbicara dalam hati Anda maka yang Anda tahu itu hanya menjadi pengetahuan saja.

Dan kalau Anda berada di tingkat hanya mengerti saja, tetapi tidak mengalami TUHAN yang mendorong Anda untuk mengalami pembersihan dan pemberesan maka yang Anda mengerti itu tidak berguna.

Buat apa hanya tahu saja tetapi tidak mengalaminya seperti orang lumpuh selama 38 tahun di pinggir kolam Betesda (baca: bab 22 – Di Pinggir Kolam Betesda).

PERBEDAAN ANTARA TANAMAN YANG DITANAM DI POT DAN TANAMAN YANG DITANAM DI TANAH

Perbedaan antara tanaman yang ditanam di pot dan tanaman yang ditanam di tanah terletak kepada akarnya.

Mengapa akarnya?

Tanaman yang ditanam di pot, akarnya telah menjadi malas dan pasif karena telah terbiasa akarnya menunggu orang untuk menyiraminya.

Kalau tidak disirami, maka tanaman dalam pot itu akan layu dan mati.

Tetapi tanaman yang ditanam di tanah, tidak bergantung kepada orang yang menyiraminya.

Karena itu, hidupmu adalah akarmu dan akarmu adalah hidupmu! (baca: bab 16 – “Hidupmu Adalah Akarmu, Dan Akarmu Adalah Hidupmu” dan bab 26 – Akar yang Menentukan).

Artinya, kekuatan pohon terletak bukan pada besar batang, bukan pada rindangnya daun-daunnya, melainkan pada akarnya.

Pohon yang besar kalau tidak mempunyai akar yang dalam dan kuat, maka ketika angin kencang bertiup pohon itu akan tumbang.

Jadi, pohon yang kuat tidak terletak pada besar batangnya dan tidak terletak pada rindang daun-daunnya, melainkan terletak pada akarnya.

Kehidupan kerohanian kita seharusnya tidak tergantung kepada hal-hal eksternal, melainkan bertumbuh dan bertambah pada akarnya yang hidup, yang mengejar kedalaman dan yang menembus dimensi keintiman bersama TUHAN.

Artikel ini diambil dari buku ‘JANGAN SEPERTI KERUPUK’ ***