35. PERKATAAN DAUD YANG TERAKHIR
PERKATAAN DAUD YANG TERAKHIR

Kita mulai dengan ayat pertama, yaitu 2 Samuel 23:1.
Dan inilah perkataan Daud yang terakhir, perkataan Daud, anak Isai, dan perkataan orang yang ditinggikan, orang yang diurapi Elohimnya Yakub, serta pemazmur yang merdu di Israel. (2 Samuel 23:1, ILT)
Saya suka dengan ayat ini.
Karena merenungkan ayat ini, saya terdorong untuk membuat konstruksi buku dan mengisinya dengan kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf, bab demi bab, hingga akhirnya menjadi sebuah buku sederhana namun mempunyai daya sengat yang mengisi hati pembacanya.
Judul yang dipilih dari jabang buku (bukan jabang bayi) adalah ‘Yang Ditinggikan TUHAN’.
Mudah-mudahan tidak terjadi perubahan judul dari draft hingga selesai dan naik cetak.
KETIKA YANG ILAHI MASUK KE DALAM HATI KITA
Sekarang, kita harus memahami tentang yang ilahi masuk dalam hati kita.
Dalam khotbah atau obrolan biasa, hati kita bisa mengenali tentang yang ilahi masuk ke dalam hati kita.
Termasuk dengan buku yang ‘berisi’ yang ilahi.
“Bagaimana caranya?”
Ada 2 cirinya.
Yang pertama, terjadi pergerakan di dalam roh kita.
Setiap kali, yang ilahi masuk ke dalam hati, roh kita merasakannya, roh kita menggeliat, dan di dalam roh kita terjadi pergerakan.
Yang kedua, roh kita menjadi kenyang.
Setiap kali, yang ilahi masuk ke dalam hati kita, roh kita menjadi kenyang.
Kita bisa membedakan kenyang secara roh dan kenyang secara jiwani.
SEBUAH PENCAPAIAN DARI SEORANG PENYEMBAH SEJATI
Hm … tentang Daud, TUHAN mempunyai kepuasan tersendiri ketika menyelami kehidupannya. Dan TUHAN memberikan upah untuk semua pencapaiannya di hadapan-Nya.
TENTANG PENCAPAIAN SEJATI DAUD
Hal yang menarik hati saya, semua pencapaian Daud yang diperhitungkan TUHAN itu bukan sebuah pencapaian dari seorang raja Israel yang terkemuka dengan segala pencapaian dan segudang prestasinya.
“Oh ya?”
Ya, bukan dari seorang raja Israel yang terkemuka.
Pencapaian Daud yang diperhitungkan TUHAN itu adalah pencapaian kualitas dan kapasitas hati dari seorang penyembah sejati.
Di sisi inilah, Daud sebagai seorang penyembah muncul, naik ke permukaan, dan hidup di hadapan-Nya.
JANGAN SAMPAI SEMUA PELAYANAN KITA MENJADI SIA-SIA
Perkataan terakhir Daud yang ditulis dalam 2 Samuel 23:1 ini merupakan sebuah perkataan seorang penyembah yang mengejar perkenanan hati TUHAN.
Perkataan terakhir Daud yang menanggalkan semua kesuksesan sebagai seorang raja.
Tidak melibatkan takhta dan mahkota!
—o0o—
“Mengapa perkataan terakhir Daud itu bukan sebagai seorang raja Israel?”
Karena sebagai seorang yang mengenal hati TUHAN, Daud menganggap semua pencapaian dan prestasi sebagai seorang pembunuh raksasa bukanlah sebuah pencapaian dan prestasi yang kekal.
Daud menganggap semua pencapaian dan prestasi sebagai seorang pahlawan bukanlah sebuah pencapaian dan prestasi yang abadi.
Juga Daud menganggap semua pencapaian dan prestasi sebagai seorang raja Israel yang terkemuka bukanlah sebuah pencapaian dan prestasi yang bisa dibanggakan di hadapan TUHAN.
Semua pencapaian dan prestasi itu mudah layu bagai bunga, yang tak tahan lama.
Dan semua pencapaian dan prestasi itu tidak dapat menjadi sebuah patokan yang menentukan di hadapan TUHAN bila ia tidak mempunyai akhir kehidupan yang benar.
Semuanya akan sia-sia!
Semuanya tidak mempunyai arti!
Semuanya akan pudar dimakan usia!
Semuanya akan melumer dikunyah waktu!
Semuanya akan sirna ditelan zaman!
Semuanya tidak berguna!
Semuanya tidak berjejak!
Dan semuanya tidak berbekas!
Bila di akhir hidupnya, Daud keluar dari tracking-Nya!
—o0o—
Karena itu, hal penting yang harus menjadi fokus dan prioritas kita di hari-hari terakhir ini adalah jangan sampai semua pelayanan kita menjadi sia-sia di hadapan-Nya.
Apabila dasar hati pelayanan kita bukan berasal dari kemurnian, ketulusan dan pengabdian, maka pelayanan yang kita bangun sekalipun terlihat paling keren, terlihat paling hebat, dan terlihat paling mewah di mata manusia – semuanya itu akan ambruk, sirna, dan berdebu.
Hal yang menyedihkan apabila semua pelayanan kita itu berujung sia-sia di hadapan-Nya.
Intinya semua pencapaian dan prestasi yang di luar kehendak-Nya merupakan pencapaian dan prestasi yang sia-sia!
Artikel ini diambil dari buku ‘Yang Ditinggikan TUHAN’. ***
