32. JUBAH YANG BERISI KEKENTALAN

JUBAH YANG BERISI KEKENTALAN

Hal menarik ketika saya mendalami kehidupan Elisa, saya menemukan sekalipun Elisa berada dalam rutinitas dan kemonotonan, hal luar biasa yang jarang ditemukan di antara banyak orang adalah Elisa membangun kualitas dan kapasitas hati di hadapan TUHAN.

Kebanyakan orang terbunuh oleh rutinitas mereka, dan tewas oleh kemonotonan mereka, sehingga mereka kepayahan dalam menjalani hari-hari mereka.

Tidak ada ‘darah segar’ yang mengalir di seluruh hidup mereka.

Dan mereka kedodoran dalam melayani TUHAN.

Di samping itu, saya juga menemukan hal menarik lainnya di dalam kehidupan Elisa, yaitu sekalipun dalam rutinitas ia mengenali panggilan ilahi dalam hidupnya.

ELIA MENDEKATI ELISA

Ketika Elia lalu dari dekatnya, ia melemparkan jubahnya kepadanya. (1 Raja-raja 19:9b)

Apa yang dilakukan Elia?

Tanpa ada sesi perkenalan.

Kalau saya lebih suka ada sesi perkenalan.

Ya, maklumlah wong saya ini seorang marketing, kalau sehari ngga ngomong banyak, badan rasanya pegel-pegel.

—o0o—

Hai Elisa, tahukan siapa aku?

Baca koran ‘Jerusalem Post’ beberapa hari ini?

Tahu tidak, ada berita yang menggemparkan Israel?

Apa?” tanya Elisa.

Ada berita yang menuliskan duel antara seorang nabi TUHAN melawan 450 orang nabi Baal?

Tahu ngga siapa nabi TUHAN yang tampil seorang diri itu?

Ngga?” jawab Elisa singkat.

Tahu ngga siapa nabi TUHAN yang dari mulutnya mengatakan mulai hari ini kemarau panjang, dan kamu tahu sejak itu seluruh tanah Israel kemarau. Lalu nabi TUHAN itu mengatakan kemarau berhenti, dan kemarau benar-benar berhenti?

Atau berita yang menuliskan nabi TUHAN yang membunuh 450 orang nabi Baal dengan sebilah pedang di Sungai Kison?

Semua berita itu ada di ‘Jerusalem Post’ beberapa hari yang lalu?

Baca tidak?

Hm ... tidak sempat?” jawab Elisa singkat sambil menunjukkan wajah yang malas menjawab.

Lalu Elia marah dan pergi tanpa meninggalkan jejak.

Juga mengebaskan debu di hadapan Elisa.

Terus bagaimana dengan ‘Elia yang melemparkan jubah ke Elisa’?

Tidak dilakukan, karena Elianya keburu kesal terhadap Elisa.

Dan karena Elisa terlihat tidak ada respons, seperti mau-mau ngga-ngga.

Mungkin juga Elisa malas menjawab semua pertanyaan Elia, hal itu terlihat dari tidak sedikitpun Elisa melepaskan pandangannya dari handphone.

—o0o—

Hahaha …. semua itu tidak ada, hanya imajinasi saya saja sebagai seorang penulis, dan misi melempar jubah gagal karena Elia keburu kesal terhadap Elisa.

Itu kalau saya yang menjadi Elia-nya, hahaha … yang kata Shieny, istri saya, saya seorang yang darah tinggi, mudah ngambek, galak dan tidak sabaran.

KO, KALAU SAYA PERHATIKAN KOKO ITU ORANGNYA DARAH TINGGI, MUDAH NGAMBEK, GALAK DAN TIDAK SABARAN!

Ko, kalau saya perhatikan Koko itu orangnya ‘DarTing’ (darah tinggi), mudah ngambek, galak dan tidak sabaran!” kata Shieny ke saya sambil jalan pagi di komplek perumahan.

Mudah emosi!” imbuhnya lagi.

Saya hanya senyum saja dan memandangi wajah Shieny.

Mengapa Shieny mengatakan begitu?

Karena Shieny memperhatikan kalau saya suka ketus dan galak ke penelepon yang menawari asuransi atau kartu kredit dari berbagai bank.

—o0o—

Suatu hari, saya kecele dengan keketusan saya ketika menjawab telepon.

Dari bank mana?

Maaf pak, saya bukan dari bank.

Lalu dari mana, sebab ngeganggu?

Maaf pak kalau mengganggu, sebab saya adalah wali kelas Joel (waktu itu Joel masih SMP). Dan kondisi Joel saat ini sedang demam tinggi, mohon dijemput.

Oh maaf, Bu.

Karena saya sering diganggu oleh orang-orang yang menawari asuransi dan kartu kredit.

Oh, ngga apa-apa, Pak.

Nanti saya jemput Joel ya Bu, sebelumnya saya minta maaf ya?

Ya, pak.

—o0o—

Kita kembali ke kisah yang Alkitab tuliskan saja.

Apa yang dilakukan Elia?

Tanpa ada pembicaraan, tanpa ada omongan, dan tanpa ada acara ngopi santai.

Tanpa ada wawancara.

Tanpa ada pengisian kuesioner kepribadian (sanguin, kolerik, melankolik dan plegmatik), termasuk tanpa ada kuesioner karunia rohani dan kuesioner 5 jawatan rohani (rasul, nabi, gembala, penginjil dan pengajar).

Perhatikan hal ini!

Yang Elia lakukan hanyalah melemparkan jubahnya saja kepada Elisa.

Hanya itu saja!

Tanpa basa-basi dan tanpa ada kata-kata apapun.

Memang Elia tidak mengatakan sepatah katapun, tetapi hal ajaib terjadi.

Apa?

Jubah yang mengenai pundak si pembajak ladang ini menyampaikan panggilan ilahi dengan jelas dan tajam.

Dan panggilan ilahi itu merasuk cepat ke dalam hatinya.

Elisa menangkap sesuatu yang ilahi terjadi dalam hidupnya.

Jubah itu berbicara banyak, menjelaskan banyak dan mengungkapkan banyak!

Hal itu menyebabkan mata roh Elisa terbuka dan mampu melihat masa depannya sebagai seorang nabi penerus Elia.

Juga mata roh Elisa melihat perjalanannya sebagai seorang nabi Israel dengan banyak hal yang ia alami termasuk mujizat demi mujizat yang terjadi, termasuk mujizat terakhirnya, yaitu tulang-tulangnya yang membangkitkan orang mati.

MENGAPA JUBAH ELIA BERBICARA BEGITU BANYAK SEKALIPUN ELIA TIDAK MENGATAKAN SEPATAH KATAPUN?

Jubah Elia itu begitu memukau.

Mengapa?

Karena jubah itu berisi kekentalan!

Sesuatu yang kental dari TUHAN itu mempunyai bobot yang berbeda, mempunyai kelas tersendiri, dan mempunyai dimensi roh yang tidak semua orang bisa memasukinya.

Itu kasta yang ‘berdarah biru’.

Jubah itu penuh dengan hadirat TUHAN, berisi pengurapan, dan mempunyai dimensi roh yang sangat kental.

Dan jubah itu mengandung dimensi roh!

—o0o—

Sesuatu yang kental dari TUHAN, tentu mempunyai harga tersendiri.

Tidak banyak orang berani membayarnya.

Dan mereka yang memiliki yang kental dari TUHAN itu tidak bisa didapat dalam waktu yang singkat.

Butuh investasi waktu yang lama untuk memiliki yang kental dari TUHAN itu.

Di hari-hari terakhir ini, sebuah pesan penting untuk Anda.

Kejarlah yang kental dari TUHAN!

—o0o—

Saya percaya, Anda bisa membedakan khotbah yang kental dari TUHAN.

Tidak kosong.

Ada pengurapannya.

Ada dimensinya.

Dan ada hadirat TUHANnya.

Tetapi khotbah yang kosong, ya hanya berisi informasi saja, hanya menyemangati, hanya memotivasi, tidak mengenyangkan roh Anda karena tidak terjadi impartasi.

Mengapa?

Karena kosong.

—o0o—

Kalau hidup kita berisi, setiap pelayanan yang kita kerjakan akan mengalirkan isinya.

Terlebih lagi kalau hidup kita bukan saja berisi melainkan kental, maka kekentalan yang dari TUHAN itu akan ikut mengalir kepada banyak orang.

Hari ini, banyak gereja yang kosong.

Waktu pujian dan penyembahan, kosong.

Waktu firman TUHAN diberitakan, juga kosong.

Beberapa gereja suka pengurapan sebulan sekali, tetapi hanya berisi ‘acara pengurapan’ saja.

Boleh dikatakan ‘acara pengurapan’ tanpa pengurapan.

Mengapa?

Karena kosong!

Tanpa ada kuasa pengurapan yang mengalir ke hati dan hidup jemaat.

—o0o—

Yang kosong-kosong ini membuat gereja miskin dalam hadirat TUHAN!

Jangankan mereka memasuki dimensi roh, hadirat-Nya pun tidak ada.

Mengapa?

Karena kehidupan yang kosong.

Mengapa kehidupan yang kosong?

Karena tidak ada persekutuan pribadi dengan TUHAN.

Mengapa tidak ada persekutuan pribadi dengan TUHAN?

Karena tidak terjadi perubahan hati.

Mengapa tidak terjadi perubahan hati?

Karena tidak ada pemberesan hati di hadapan TUHAN.

Mengapa tidak ada pemberesan hati di hadapan TUHAN?

Karena tidak membiarkan TUHAN mengintervensi hidup mereka.

Artikel ini diambil dari buku ‘MATA BAJAK MENJADI MATA NABI’. ***