26. SISI ‘TUHAN MELIHAT HATI’ DAN SISI ‘RESPONS HATI’
SISI ‘TUHAN MELIHAT HATI’ DAN SISI ‘RESPONS HATI’

DUA SISI DALAM TAHAP PEMAKAIAN-NYA
Pengalaman telah mengajar dan mendidik saya, bahwa ada 2 sisi dalam tahap pemakaian TUHAN.
Yang pertama, sisi di mana ‘TUHAN melihat hati.’
Hal ini berbicara tentang TUHAN melihat dan menemukan orang-orang untuk dimasukkan ke dalam daftar orang yang akan dipakai-Nya.
Dan yang kedua, sisi ‘respons hati’.
Hal ini berbicara tentang respons hati kita yang menentukan seberapa tinggi dan seberapa jauh pencapaian dalam tahap pemakaian-Nya.
PERHATIKANLAH BAGAIMANA KAMU HIDUP!
Kalau berbicara tentang ‘TUHAN melihat hati’ dan ‘respons hati’ berarti hal ini mengarah kepada bagaimana kita hidup di hadapan-Nya.
Maksudnya, bukan kepada pekerjaan Anda, atau kepada pelayanan Anda, tetapi kepada hati Anda. Hal ini fokus kepada kondisi hati Anda, kepada perjalanan hati Anda di hadapan TUHAN, kepada langkah-langkah hati Anda dalam menyikapi kehidupan yang rutinitasnya membosankan, bahkan kemonotonannya yang membelenggu.
—o0o—
Sekarang, apa yang harus kita lakukan?
Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif. (Efesus 5:15)
Apa yang harus kita perhatikan?
Ada 3 hal utama yang harus kita perhatikan yang berkaitan erat dengan kehidupan kita.
Yang pertama, memperhatikan (kondisi) hati kita.
Hati kita ini bisa seperti rumah kosong yang kotor, penuh semak belukar, dan bocor, serta rusak di berbagai tempat. Ketika hati kita seperti rumah kosong, itu akan tercermin dalam hidup kita.
Karena itu, ketika TUHAN berkata ‘perhatikan bagaimana kamu hidup’, berarti TUHAN menghendaki supaya kondisi hati yang seperti rumah kosong itu diperbaiki, dibersihkan, dan direnovasi supaya rumah itu bagus dan layak untuk dihuni.
Saya percaya, Roh Kudus tidak nyaman dengan kondisi hati yang seperti rumah kosong itu.
Karena itu, sangat penting bagi kita memperhatikan kondisi hati kita di hadapan TUHAN.
Jangan sampai di hari-hari terakhir ini, Roh Kudus tidak betah dengan kondisi hati kita!
—o0o—
Yang kedua, memperhatikan ibadah kita.
Jika seseorang di antara kamu berpikir untuk menjadi orang yang beribadah dengan tidak mengendalikan lidahnya, tetapi dengan menipu hatinya, inilah ibadah yang sia-sia.
Ibadah yang murni dan tidak bercacat di hadapan Elohim, dan Bapa, adalah seperti ini: mengunjungi yatim piatu dan para janda dalam kesukaran mereka, dan menjaga diri sendiri tidak tercemar dari dunia. (Yakobus 1:26-27, ILT3)
Ayat di atas menjelaskan kepada kita tentang ibadah yang sia-sia dengan ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan TUHAN.
Dari ayat itu, kita mengerti yang menjadikan ibadah sia-sia adalah tidak mengekang lidah.
Ketika seseorang tidak mengekang lidahnya, maka Alkitab menjelaskan ibadahnya menjadi sia-sia!
Karena lidah, maka ibadah yang dibangun menjadi rusak dan menjadi sia-sia.
“Lidah seperti apa yang menyebabkan ibadah seseorang menjadi sia-sia?”
Lidah yang sembarangan, lidah yang mengata-ngatai, dan lidah yang penuh dengan kecemaran seperti gosip dan berbohong.
Kalau TUHAN berkata, perhatikan bagaimana kamu hidup, hal ini berarti kita harus memperhatikan ibadah kita supaya tidak menjadi ibadah yang sia-sia!
Hal itu berarti TUHAN menghendaki supaya kita mengekang lidah kita.
Di hari-hari terakhir ini, umat TUHAN harus takut akan Dia!
Kalau tidak, maka ibadah mereka rusak dan menjadi sia-sia.
Semua itu karena tidak mengekang lidah!
Ketika hal itu terjadi, maka mereka tidak dapat menerima apa yang telah TUHAN sediakan bagi mereka.
Di hari-hari terakhir ini, sungguh mengerikan kalau ibadah Anda menjadi sia-sia di hadapan-Nya karena tidak mengekang lidah.
—o0o—
Dan yang ketiga, memperhatikan mezbah.
Saya telah menulis ‘Trilogi Mezbah’ (‘Mezbah Hati’, ‘Mezbah Kesukaan’, dan ‘Mezbah yang Dirindukan’).
Dalam buku-buku itu, saya menuliskan bahwa mezbah itu merupakan bagian penting dalam kehidupan kita.
Banyak orang hidupnya tidak diubah TUHAN karena mereka tidak memperhatikan mezbah mereka seperti di zaman Elia.
Kata Elia kepada seluruh rakyat itu: “Datanglah dekat kepadaku!” Maka mendekatlah seluruh rakyat itu kepadanya. Lalu ia memperbaiki mezbah TUHAN yang telah diruntuhkan itu. (1 Raja-raja 18:30)
Di ayat ini, sebelum terjadi kebangunan rohani, yang pertama harus dilakukan adalah memperbaiki mezbah yang runtuh.
Hal ini identik dengan kehidupan kita!
Kalau hidup kita ingin mengalami kebangunan rohani, hal utama yang harus kita lakukan adalah memperbaiki mezbah hidup kita.
Kalau hidup kita ingin mengalami pekerjaan TUHAN yang dahsyat, hal utama yang harus kita lakukan adalah memperbaiki mezbah hati kita.
Dan kalau hidup kita ingin mengalami tingkat kemuliaan-Nya, maka hal utama yang harus kita lakukan adalah memperbaiki mezbah doa kita.
—o0o—
Kalau mezbah kita runtuh, harus diperbaiki!
Karena itu, kita melihat setelah mezbah itu diperbaiki, maka api-Nya turun dan menyambar habis korban bakaran yang diletakkan di atas mezbah itu.
Lalu turunlah api TUHAN menyambar habis korban bakaran, kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air yang dalam parit itu habis dijilatnya. (1 Raja-raja 18:38)
Tetapi, sebelum Elia memperbaiki mezbah yang runtuh, ia harus terlebih dahulu memperbaiki kondisi hati umat TUHAN.
Lalu Elia mendekati seluruh rakyat itu dan berkata, “Sampai kapan kamu berlaku timpang dan bercabang hati? Jika YAHWEH itu Elohim, ikutilah Dia! Dan jika baal, ikutilah dia!” Tetapi rakyat itu tidak menjawab sepatah kata pun. (1 Raja-raja 18:21, ILT3)
“Mengapa rakyat itu tidak menjawabnya sepatah katapun?”
Karena mereka sadar akan kondisi hati mereka yang seperti Elia katakan, yaitu berlaku timpang dan bercabang hati.
Keterangan: Artikel ini diambil dari buku ‘MATA BAJAK MENJADI MATA NABI’. ***
