7. JANGAN MENGHAKIMI MELAINKAN KEJARLAH KEKUDUSAN
JANGAN MENGHAKIMI MELAINKAN KEJARLAH KEKUDUSAN. Sebuah kisah ‘Inspirasi Sisi Lain’ yang mengisahkan tentang seorang pemuda dan ayahnya dalam sebuah kereta api.
Seorang pemuda 24 tahun melihat ke luar jendela kereta sambil berteriak, “Ayah, lihat. Pohon-pohon itu berjalan mundur!”
Sang ayah hanya tersenyum. Pasangan muda yang duduk di sebelah mereka menatap heran. Karena pemuda itu masih berperilaku seperti anak-anak.
“Ayah, lihat. Awan-awan itu berlari bersama kita!” kata sang anak lagi. Pasangan muda itu tidak tahan dengan perilaku sang anak dan bertanya kepada ayahnya.
“Kenapa kamu tidak bawa anakmu ke dokter?”
Sang ayah tersenyum dan berkata, “Sudah, kami baru saja dari rumah sakit. Dan anak saya ini buta dari lahir. Hari ini adalah hari pertama dia melihat.”
Setiap manusia mempunyai ceritanya masing-masing. Jangan pernah menilai orang lain sebelum kita betul-betul mengenalnya.
Fakta yang ada, mungkin akan mengejutkan.
—o0o—
Sebuah kisah yang membuat kita harus mawas diri.
“Mengapa?”
Karena tidak semua yang terlihat oleh mata jasmani itu menunjukkan keadaan yang sebenarnya. Dibutuhkan kehatian-hatian dalam melihat, dalam mendengar, dan dalam menilai, bahkan dalam menghakimi. Alasan ini saya ungkapkan karena begitu mudahnya kita melihat lalu menghakimi, begitu mudahnya kita mendengar lalu menghakimi, dan begitu mudahnya menilai lalu mengkritik.
Melalui blog ini, saya ingin menonjolkan sisi lain, bukan sisi lain yang belum kita ketahui, tetapi sisi lain setelah kita ‘tua’. Pastilah setelah kita ‘tua’, ada perbedaan dalam cara kita melihat, cara kita mendengar, dan cara kita menilai.
Kalau tidak ada perubahan, berarti kita terjebak dalam ‘kutuk’ kekanak-kanakan, yang secara usia kita bukanlah anak-anak lagi, tetapi cara kita melihat, cara kita mendengar, dan cara kita menilai dapat diidentifikasi sebagai kedangkalan dan kebodohan kita.
Lewat blog ini, saya ingin mengajak Anda untuk mengubah cara Anda melihat, cara mendengar, dan cara menilai, sehingga cara melihat yang baru, cara mendengar yang baru, dan cara menilai yang baru membuat kita bertambah bijak, bertambah hikmat, dan bertambah luas wawasannya.
Untuk itu, saya mengajak Anda untuk melihat, mendengar dan menilai dari sisi ‘tua’ kita supaya kita menilai dengan bijaksana.
MENGELUARKAN BALOK DI MATA KITA
“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.
Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?
Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.
Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” (Matius 7:1-5)
Urusan serius di hari-hari terakhir ini adalah urusan menghakimi. Ayat di atas memberikan beberapa penegasan serius bagi kita.
Yang pertama, dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi.
Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi … (Matius 7:2a)
Lebih baik, setiap kita mengarahkan hati kepada TUHAN, dan menghentikan kebiasaan buruk yang merasa lebih baik dari orang lain, merasa lebih suci dari orang lain, dan merasa lebih bersungguh hati dari orang lain.
“Mengapa?”
Karena ketika Anda berhadapan dengan nilai yang lebih tinggi, Anda akan menyadari kondisi Anda yang sebenarnya.
—o0o—
Perhatikan hal ini!
Ketika orang suci berkumpul dengan orang yang tidak suci, maka orang yang tidak suci itu akan menyadari kondisi hati dan hidupnya yang tidak suci. Ketika orang yang bersungguh hati di hadapan TUHAN berkumpul dengan orang yang tidak bersungguh hati, maka mereka yang tidak bersungguh hati akan menyadari keadaannya yang tidak bersungguh hati.
Dan ketika orang yang mempunyai kapasitas di hadapan TUHAN berkumpul dengan orang yang tidak mempunyai kapasitas, maka mereka yang tidak mempunyai kapasitas menyadari bahwa diri mereka tidak mempunyai kapasitas.
“Mengapa?”
Karena mereka berhadapan dengan nilai yang lebih tinggi!
CARA MENGHAKIMI ORANG BERDOSA
Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar;
sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan. (Mazmur 1:5-6)
Ayat di atas menjelaskan, ‘begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar’. Karena itu, mereka yang hidup dalam dosa suka membuat penghakiman menurut versi mereka sendiri dengan tujuan supaya mereka merasa lebih baik dari orang-orang yang lebih buruk dari mereka.
Anda pasti tidak heran ketika melihat sebuah komunitas yang di dalamnya berisi orang-orang yang saling membicarakan kesalahan dan dosa masing-masing anggota. Tujuan yang mereka lakukan itu hanya untuk merasa lebih baik dari orang lain saja.
Mereka juga hidup dengan cara saling membandingkan satu sama lainnya, mulai dari membandingkan penampilan (wajah dan postur tubuh dengan segala macam yang dikenakan seperti pakaian, perhiasan dan lain-lain), lalu kepintaran, dan akhirnya kekayaan. Juga mereka membandingkan dosa dan keburukan antara mereka.
Selalu saja ada orang yang harus menjadi korban untuk dibicarakan dan digosipkan!
“Mengapa?”
Karena ‘perasaan lebih baik’ itu yang mereka butuhkan. Padahal ‘perasaan lebih baik’ dengan cara menjelek-jelekkan dan menggosipkan orang lain itu merupakan ‘perasaan lebih baik’ palsu. Karena itu, mereka tidak mengenal lelah untuk membicarakan kesalahan dan dosa orang lain. Juga mereka tidak mudah lupa detail kesalahan dan dosa orang lain. Tetapi anehnya, kalau firman TUHAN mereka cepat lupa!
Mereka suka menyiarkan kesalahan, keburukan dan dosa orang lain, tetapi mereka tidak mempunyai kata-kata untuk menyiarkan kebenaran dan tidak mempunyai keberanian untuk memberitakan Injil Keselamatan kepada mereka yang belum mengenal Kristus.
—o0o—
Kalau mereka ini tidak tahan dalam kumpulan orang benar, maka mereka menciptakan ‘kumpulan orang yang lebih baik’ supaya orang-orang terlihat lebih buruk dari mereka.
“Dengan cara apa?”
Dengan cara ‘menggonggong dan berisik’ tentang kesalahan, keburukan dan dosa orang lain. Karena itu, saya sering memperhatikan orang-orang yang suka ‘menggonggong dan berisik’ tentang kesalahan, keburukan dan dosa orang lain, mereka sedang menonjolkan hidup mereka, yang seolah-olah tanpa kesalahan, keburukan dan dosa.
Sebenarnya mereka sedang menciptakan ‘perasaan lebih baik palsu’, ‘perasaan suci palsu’, dan ‘perasaan benar palsu’. Dan semua yang palsu itu sama sekali tidak berguna, bahkan menyesatkan mereka!
“Mengapa?”
Karena ayat ini akan dikenakan kepada mereka!
Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi … (Matius 7:2a)
—o0o—
Yang kedua, ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.
dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. (Matius 7:2b)
Sebenarnya, ketika kita ‘tua’, urusan menghakimi orang lain itu bukan masalah sepele.
“Mengapa?”
Karena ayat itu menjelaskan tentang ukuran yang kita pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepada kita sendiri.
Seperti hukum gema, semakin kita menggemakan maka kita akan mendengar apa yang kita gemakan itu dan itu akan mengenai hidup kita sendiri. Semakin keras kita menggemakan, semakin keras juga mengenai hidup kita sendiri.
—o0o—
Dan yang ketiga, keluarkanlah dahulu balok dari matamu.
keluarkanlah dahulu balok dari matamu, (Matius 7:5a)
Seperti yang saya katakan di atas, bahwa urusan serius di hari-hari terakhir adalah urusan menghakimi.
“Mengapa?”
Karena kita pun akan berhadapan dengan Seorang Hakim Sejati. Yesus berkata jelas.
“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” (Matius 7:1)
Ayat ini mengakibatkan,
“Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (Matius 7:2)
Hal itu berarti berkaitan dengan cara kita melihat, cara kita mendengar, cara kita menilai menjadi dasar yang akan dikenakan kepada diri kita sendiri. Karena itu, hal serius yang mengancam kita adalah
“Keluarkanlah dahulu balok dari matamu” (Matius 7:5a)
Jadi, hal serius di hadapan TUHAN adalah urusan ‘keluarkanlah dahulu balok dari mata kita’.
“Apa artinya?”
Artinya, pengenalan dan pengalaman kita akan TUHAN seharusnya membuat kita mawas diri sehingga tidak mudah untuk menghakimi orang lain, melainkan dengan penuh belas kasihan kepada banyak orang. Bukannya sibuk menghakimi. Dan bukannya menyiarkan kesalahan, keburukan dan dosa orang lain.
KEJARLAH KEKUDUSAN
Karena Kristus Yesus, kita dikuduskan secara pasif dan menguduskan diri secara aktif. Yang pertama, dikuduskan secara pasif.
Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama TUHAN Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita. (1 Korintus 6:11b)
Ayat ini menjelaskan bahwa kita secara pasif menerima pengudusan dari-Nya. Tetapi setelah kita mengalami kekudusan secara pasif, bagian yang TUHAN rindukan adalah setiap kita mengejar kekudusan secara aktif.
Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat TUHAN. (Ibrani 12:14)
Hal penting dalam perjalanan bersama TUHAN adalah urusan masuk kedalaman bersama-Nya. Dan mereka yang mengerti mengejar kekudusan adalah mereka yang telah mengalami kedalaman.
“Mengapa?”
Karena urusan kedalaman adalah urusan tingkat kekudusan! Seberapa jauh Anda mengalami kedalaman, tergantung pada tingkat kekudusan Anda!
Ketika kita mulai masuk kedalaman bersama-Nya, maka hal utama yang kita sadari adalah urusan kekudusan.
Kalau tingkat kekudusan kita semata kaki, walau sudah dikuduskan TUHAN, maka kita akan menyadari tingkat kekudusan kita yang belum seberapa.
Kalau kita mengejar kekudusan, yang tadinya semata kaki lalu bertumbuh menjadi selutut, sepinggang, dan naik terus, maka sejauh itu pula kita akan mengalami kedalaman-Nya (sebuah ilustrasi ukuran seperti yang dituliskan dalam Kitab Yeheziel 47:1-12).
Jadi, mereka yang suka menghakimi orang lain, hal yang mengerikan adalah mereka tidak mengalami kedalaman bersama TUHAN, karena itu mereka hanya mengurusi dosa dan kesalahan orang lain menjadi kebenaran palsu karena merasa lebih baik dari orang lain.
Sering kali orang yang suka menghakimi orang lain itu hidupnya tidak lebih baik dari orang yang dihakiminya.
Orang yang mengalami kedalaman bersama TUHAN, pastilah orang yang mengejar kekudusan. Dan mereka yang mengejar kekudusan akan mengejar ‘berminyak’, bukan ‘beracun’. Setiap hari mengejar diminyaki dalam hadirat-Nya.
Dan setiap hati mengejar kekudusan supaya mengalami tingkat kedalaman bersama-Nya. Tidak mau dicemari oleh kecemaran dunia, juga kecemaran dari hati orang-orang yang bermasalah hatinya. Tidak mau ‘beracun’ dan tidak mau merasa lebih baik karena menghakimi orang lain.
Artikel ini diambil dari buku ‘Ketika Aku Tua’. ***