6. TIKAMAN BELATI PERASAAN BERSALAH
TIKAMAN BELATI PERASAAN BERSALAH.

Ketika TUHAN memerintahkan Nabi Natan untuk menegur Raja Daud, terus terang saja hal ini tidak mudah melakukannya. Ada orang yang berani menegur raja dan nasibnya berakhir dengan kepala yang terlepas dari tubuhnya, atau membusuk dalam penjara. Demi panggilan ilahi maka Natan pergi ke istana untuk melakukan perintah TUHAN dengan resiko belum tentu bisa kembali ke rumahnya.
“Pertanyaannya, mengapa Daud ketika telunjuk Natan mengarah kepadanya, dan respon Daud mengoyakkan hatinya?
Karena setelah Daud jatuh dengan Batsyeba, kondisi Daud itu sebenarnya menjauh dari-Nya.
Kurang lebih seumur kandungan Batsyeba sampai anak hasil hubungan gelap itu lahir, penderitaan batin yang dirasakan Daud, juga oleh Batsyeba. Atau mungkin dari sebelumnya hati Daud telah menjauh dari TUHAN.
Saat hati Daud menjauh dari-Nya, ia merasakan tekanan yang berat, seperti yang dituliskan dalam Mazmur 32.
Alangkah bahagiannya orang-orang yang kesalahannya telah diampunkan! Alangkah besarnya sukacita apabila dosa-dosa sudah ditutupi! Alangkah leganya hati orang yang telah mengakui dosa-dosanya dan Allah telah menghapus semua dosa itu.
Dahulu aku tidak mau mengakui dosa-dosaku. Tetapi ketidakjujuranku membuat aku sengsara dan memenuhi hari-hariku dengan keputusasaan.
Siang malam tangan-Mu terasa berat menekan aku.
Kekuatanku menguap bagaikan air di bawah terik mataharisampai akhirnya aku mengakui segala dosaku kepada-Mu dan tidak lagi berusaha menyembunyikannya.
Aku berkata dalam hatiku, “Aku akan mengakui dosa-dosaku kepada TUHAN.” Dan Engkau mengampuni aku. Semua kesalahanku dihapuskan. (Mazmur 32:1-5, FAYH)
Karena itu, ketika Nabi Natan mengatakan, “Engkaulah orang itu!” (2 Samuel 12:7a), reaksi yang muncul dari hati Daud adalah remuk hati dan mengoyakkan hatinya di hadapan TUHAN.
Tetapi sebelumnya Daud telah menjatuhkan hukuman mati kepada ‘si orang kaya yang mengambil anak domba betina tetangganya yang miskin’.
Lalu Daud menjadi sangat marah karena orang itu dan ia berkata kepada Natan: “Demi TUHAN yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati.
Dan anak domba betina itu harus dibayar gantinya empat kali lipat, karena ia telah melakukan hal itu dan oleh karena ia tidak kenal belas kasihan.” (2 Samuel 12:5-6)
Perhatikan kalimat demi kalimat ayat di atas.
Yang pertama, ‘Lalu Daud menjadi sangat marah …’
Yang kedua, “Demi TUHAN yang hidup: orang yang melakukan itu harus dihukum mati.”
Dan yang ketiga, “Dan anak domba betina itu harus dibayar ganti empat kali lipat, …”
Kalau kita perhatikan dari ketiga hal itu, terasa Daud sebagai seorang raja yang adil dan bijaksana. Tetapi kalau kita lihat balik perjalanan setelah ia jatuh dengan Batsyeba, maka kita tahu bahwa Daud berada dalam tekanan berat, juga menderita dalam tikaman belati perasaan bersalah yang mengoyak tanpa henti.
“Mengapa Daud menjadi sangat marah?”
Karena kemarahan yang tersimpan dalam alam bawah sadarnya itu meletup dan membakar korban yang dirasakan telah melakukan kesalahan dan dosa.
“Mengapa Daud menjadi kasar dan kejam?”
Karena perasaan bersalah itu mengubah korbannya menjadi kasar dan kejam terhadap dosa dan kesalahan orang lain untuk menutupi dosa kita sendiri.
—o0o—
Saya perhatikan orang-orang yang ‘suka’ terhadap kesalahan dan dosa orang lain, sebenarnya mereka mengidap perasaan bersalah di dalam hati mereka. Semakin besar perasaan bersalah bersarang di dalam hati seseorang, semakin haus ia berusaha untuk mencari dan menemukan kesalahan dan dosa orang lain. Mereka yang bersemangat terhadap kesalahan dan dosa orang lain, harus ditilik hati mereka.
“Mengapa?”
Karena perasaan bersalah di dalam hati mereka itu yang membuat mereka ‘haus’ akan kesalahan dan dosa orang lain. Ketika mereka mendapatkan ‘makanan’ berupa kesalahan dan dosa orang lain, maka perasaan bersalah yang bercokol di dalam hati mereka berhasil menenggelamkan dosa-dosa mereka sendiri sehingga dosa-dosa mereka tampak lebih kecil dan menghilang.
Tetapi hal yang tidak pernah mereka sadari terjadi di dalam hati mereka adalah perasaan bersalah itu juga berhasil mengubah mereka menjadi semakin kasar dan kejam terhadap orang lain. Perasaan bersalah itu membutuhkan kesalahan dan dosa orang lain, supaya mereka yang mengidap perasaan bersalah di dalam hatinya mendapat ketenangan sementara.
Dan ketenangan sementara itu hanyalah ketenangan yang menjerumuskan kepada kesalahan dan dosa yang lebih dalam.
KETIKA YESUS MENUNJUKKAN PERASAAN BERSALAH YANG MENGUASAI HATI MEREKA SEHINGGA TIDAK SEORANG PUN YANG MENGHUKUM PEREMPUAN ITU
Yesus kembali ke Bukit Zaitun.
Tetapi keesokan harinya pagi-pagi benar. Ia sudah berada lagi di Bait Allah. Orang banyak segera berkumpul, lalu Ia duduk serta berkata-kata kepada mereka.
Sementara Ia berbicara, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa seorang wanita yang kedapatan sedang berzinah dan menempatkannya di hadapan orang banyak.
“Guru,” kata mereka kepada Yesus, “perempuan ini tertangkap tengah berzinah.
Taurat Musa mengatakan bahwaia harus dibunuh. Bagaimana pendapat Guru?”
Mereka sedang menjebak Dia supaya mengucapkan sesuatu yang dapat digunakan oleh mereka untuk menyalahkan-Nya. Tetapi Yesus membungkuk dan menulis di tanah dengan jari-Nya.
Mereka terus-menerus meminta jawaban, sebab itu, Ia berdiri dan berkata, “Baiklah, lempari dia dengan batu sampai mati. Tetapi hendaknya orang yang tidak pernah berdosa melempar paling dahulu!”
Kemudian Ia membungkuk dan menulis lagi di tanah. (Yohanes 8:1-8, FAYH)
Ketika ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa seorang wanita yang kedapatan sedang berzinah, tujuan mereka adalah menjebak Yesus. Tetapi ketika mereka mendengar perkataan Yesus, “Baiklah, lempari dia dengan batu sampai mati. Tetapi hendaklah orang yang tidak pernah berdosa melempar paling dahulu!” maka hal itu membuat mereka tidak bisa berkutik.
“Mengapa?”
Karena Yesus sedang menunjukkan masalah terbesar dalam hati mereka.
“Apa?”
Perasaan bersalah yang bercokol dan yang menguasai hati mereka.
“Lalu apa yang terjadi?”
Pemimpin-pemimpin orang Yahudi itu menyelinap ke luar seorang demi seorang, mulai dari yang tertua.
Akhirnya, hanya Yesus sendirilah yang tertinggal dengan wanita itu di hadapan banyak orang. (Yohanes 8:9, FAYH)
Seorang demi seorang pergi meninggalkan tempat itu, mulai dari yang tertua.
“Mengapa mereka pergi meninggalkan tempat itu, mulai dari yang tertua?”
Karena saat itu mereka tersadarkan akan perasaan bersalah yang bercokol dan yang menguasai hati mereka. Yang tertua itu yang paling tidak dapat berdiri karena perasaan bersalah yang bercokol dan yang menguasai hati mereka tidak tahan ketika diterangi oleh perkataan-Nya, sehingga mau tak mau yang tertua itu seorang demi seorang harus mengangkat kakinya meninggalkan tempat itu.
—o0o—
Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?”
Jawabnya: “Tidak ada, TUHAN.” Lalu kata Yesus: “Aku pun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Yohanes 8:10-11)
Ketika tidak ada seorang pun yang menghukumnya, dan perempuan itu bertemu dengan pengampunan. Yesus tidak menghukumnya.
Kebanyakan orang ‘haus’ untuk menghukum orang lain yang mereka temukan kesalahan dan dosanya, tetapi kasih dan pengampunan TUHAN itu jauh melebihi kesalahan dan dosa yang kita perbuat. Dan kita tahu, perempuan itu seharusnya mati dirajam batu, ia malah mengalami anugerah TUHAN. Tidak perlu lagi tertatih-tatih karena perasaan bersalah.
—o0o—
Ada pasangan suami isteri yang salah seorangnya berselingkuh. Untuk menutupi perasaan bersalahnya itu maka orang yang berselingkuh itu akan bertindak kasar dan kejam terhadap pasangannya, juga terhadap anak-anaknya. Tidak ada pengertian dan toleransi lagi, terutama kalau ia menemukan kesalahan dan dosa dalam keluarganya.
Itulah ekspresi dari perasaan bersalah yang menyiksa batinnya, dan mereka yang mengidap perasaan bersalah itu ingin menularkan perasaan yang menyiksanya kepada orang lain.
Tujuannya supaya perasaan yang menyiksa itu berhenti menyiksa.
Tetapi solusi untuk orang yang mengidap perasaan bersalah itu bukan ditutupi, tetapi diselesaikan di hadapan TUHAN dan di hadapan orang-orang yang membuatnya perasaan bersalah itu.
Tetaplah pola Injil yang tidak pernah diubah sampai kapan pun adalah kemurnian hati nurani.
Dan kemurnian hati nurani adalah pembersihan dan pemberesan hati.
—o0o—
Saya juga melihat ada pemimpin pelayanan yang bermasalah di dalam hidupnya.
Hal sebenarnya karena ada masalah dalam hatinya.
Sejak ia jatuh dalam hubungan yang salah karena menganggap sepele tentang hal itu. Respon hatinya yang salah dan hasilnya mengeraskan hati. Akibatnya, ia tidak mengalami pemulihan dan kesembuhan sampai tuntas, maka ia mengidap perasaan bersalah yang menyiksa.
Terlihat dari cara khotbahnya yang berisi intimidasi sehingga jemaat yang mendengar khotbahnya terasa ‘spirit yang menghakimi’ dan membuat jemaat tergeletak dengan perasaan bersalah.
Juga kalau mendengar berita tentang kesalahan dan dosa orang lain, ia sangat bersemangat, seolah-olah hidupnya sendiri tidak pernah melakukan kesalahan dan dosa.
—o0o—
Ada juga seorang pemimpin pelayanan wanita yang kalau khotbahnya berisi kemarahan dan ‘spiritnya menghukum’.
Ketika saya lihat perjalanan hidupnya, dan berani menyimpulkan bahwa pemimpin pelayanan wanita itu harus mengalami pemulihan dan kesembuhan total supaya ia mampu mengalirkan ‘air bersih’ dari dalam hatinya.
Perjalanan masa kecil yang penuh luka dan karena ia melihat pernikahan orang tuanya yang tidak harmonis, ditambah lagi dengan pernikahan dengan suaminya yang bermasalah dalam karakter menyebabkannya ‘air bersih’ dari TUHAN menjadi ‘air kotor’ yang mengalir dari khotbah-khotbahnya.
—o0o—
Ya, itulah cara kerja perasaan bersalah yang tidak mau dibereskan akan mengubah korbannya menjadi seorang yang kejam dan sadis terhadap orang lain.
Dan banyak umat TUHAN termasuk para pemimpin pelayanan yang tidak menyadari akan musuh yang ‘tinggal’ di dalam hati mereka itu membuat mereka mempunyai kecenderungan error dan mempunyai siklus error dalam kehidupan mereka.
Artikel ini diambil dari buku ‘Belokan Benar Dan Belokan Salah’. ***