11. IBLIS BERSEMBUNYI DIBALIK LUKA-LUKA YANG BELUM SEMBUH!
IBLIS BERSEMBUNYI DIBALIK LUKA-LUKA YANG BELUM SEMBUH! Sekarang kita akan melihat tentang seorang penasihat Daud, yang bernama Ahitofel.
Ketika kepada Daud dikabarkan, demikian: “Ahitofel ada di antara orang-orang yang bersepakat dengan Absalom,” maka berkatalah Daud: “Gagalkanlah kiranya nasihat Ahitofel itu, ya TUHAN.” (2 Samuel 15:31)
“Mengapa Daud memohon supaya TUHAN menggagalkan nasihat Ahitofel?”
Jawabnya tertulis pada 2 Samuel 16:23.
Pada waktu itu nasihat yang diberikan Ahitofel adalah sama dengan petunjuk yang dimintakan dari pada Allah; demikianlah dinilai setiap nasihat Ahitofel, baik oleh Daud maupun oleh Absalom. (2 Samuel 16:23)
Absalom melakukan nasihat Ahitofel, sama seperti Daud dahulu; karena setiap nasihat Ahitofel dianggap sangat bijaksana seolah-olah dari Allah sendiri. (2 Samuel 16:23, FAYH)
Hal itu menunjukkan kualitas Ahitofel, yang berarti ia bukanlah orang biasa, melainkan orang mempunyai keintiman, mempunyai kepekaan terhadap hati dan suara-Nya, dan mempunyai ketajaman.
“Siapakah Ahitofel?”
Ia adalah kakeknya Batsyeba.
Lalu Daud menyuruh orang bertanya tentang perempuan itu dan orang berkata: “Itu adalah Batsyeba binti Eliam, isteri Uria orang Het itu.” (2 Samuel 11:3)
Eliam anak Ahitofel orang Gilo; (2 Samuel 23:34)
“Mengapa Ahitofel menjadi penasihat Absalom?”
Karena Ahitofel kecewa terhadap ke-error-an Daud yang mengambil ‘anak domba betina’ yang adalah cucunya dan membunuh suaminya. Ahitofel terluka karena Daud tidur dengan Batsyeba, dan membunuh Uria, yang adalah cucu mantunya.
Karena itu, perhatikan 2 nasihat Ahitofel kepada Absalom.
Yang pertama, nasihat Ahitofel kepada Absalom supaya menghampiri gundik-gundik Daud (baca 2 Samuel 16:20-22).
Dan yang kedua, nasihat Ahitofel kepada Absalom dengan misi balas dendam, yaitu mengejar dan memburu Daud (baca 2 Samuel 17:1-14).
Untunglah Daud menaruh Husai, sahabatnya di istana, untuk menggagalkan nasihatnya. Dan juga karena campur tangan TUHAN yang mendengar doa Daud.
Sebab TUHAN telah memutuskan, bahwa nasihat Ahitofel yang baik itu digagalkan, dengan maksud supaya TUHAN mendatangkan celaka kepada Absalom. (2 Samuel 17:14b)
“Apa yang terjadi ketika Husai menggagalkan misi balas dendam Ahitofel?”
Ketika dilihat Ahitofel, bahwa nasihatnya tidak dipedulikan, dipasangnyalah pelana keledainya, lalu berangkatlah ia ke rumahnya, ke kotanya; ia mengatur urusan rumah tangganya, kemudian menggantung diri.
Demikianlah ia mati, lalu ia dikuburkan dalam kuburan ayahnya. (2 Samuel 17:23)
Sebuah akhir yang tragis!
Ahitofel bunuh diri.
Sekalipun ia seorang yang mempunyai keintiman dengan TUHAN, kepekaan dan ketajaman, tetapi kalau ia mempunyai luka yang belum disembuhkan, mempunyai konflik yang belum dibereskan, dan tidak menjaga hatinya, maka ia tenggelam dalam kegelapan, dan ujungnya tragis.
KETIKA ANDA BERADA DALAM KEGELAPAN, MAKA ANDA TIDAK BISA MENGENALI JALAN DAN KEHENDAK-NYA
Iblis bisa masuk melalui luka-luka kita yang belum sembuh, dan ia melakukan pengrusakan dari dalam. Dari luka-luka yang belum sembuh itu, iblis menarik kita supaya tinggal dalam kegelapan, dan ketika berada dalam kegelapan, maka kita tidak bisa mengenali jalan dan kehendak-Nya.
Ketika kita tidak bisa mengenali jalan dan kehendak-Nya, maka hal itu menunjukkan kita telah tersesat dan telah buta sehingga tidak mengetahui arah.
Barangsiapa berkata, bahwa ia berada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan sampai sekarang.
Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan.
Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya. (1 Yohanes 2:9-11)
Di hari-hari terakhir ini, janganlah kita hidup dalam kegelapan, sebab sekalipun kita adalah orang-orang pelayanan yang berperan dalam jemaat, tetapi kalau hidup dalam kegelapan, maka kegelapan itu akan menyeretnya kepada hal-hal yang menjauhi kasih karunia-Nya.
Artikel ini diambil dari buku ‘Kegelapan Rohani’. ***